Tafsir Thaha Ayat 95-113

Ayat 95-98: Hardikan Musa ‘alaihis salam terhadap Samiri, hukuman yang ditimpakan kepada Samiri, setiap ibadah yang ditujukan kepada selain Allah adalah batil, keutamaan marah karena Allah ketika larangan-Nya dilanggar, dan bahwa ibadah itu hanya ditujukan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja.



قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ (٩٥) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي (٩٦) قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا (٩٧) إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا (٩٨

Terjemah Surat Thaha Ayat 95-98

95. Musa berkata, "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) wahai Samiri?"

96. Dia (Samiri) menjawab, "Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui[1], jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul[2] lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.”

97. Dia (Musa) berkata, "Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan di dunia engkau (hanya dapat) mengatakan, "Janganlah menyentuh (aku)[3].” Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah Tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan)[4].

98. [5]Sungguh, Tuhan yang berhak kamu ibadahi hanyalah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”

Ayat 99-104: Kisah umat-umat terdahulu merupakan peringatan bagi manusia, Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan kehidupan dunia yang sebentar.





كَذَلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا (٩٩) مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا (١٠٠)خَالِدِينَ فِيهِ وَسَاءَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِمْلا (١٠١) يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا (١٠٢) يَتَخَافَتُونَ بَيْنَهُمْ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا عَشْرًا (١٠٣) نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ إِذْ يَقُولُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلا يَوْمًا (١٠٤

Terjemah Surat Thaha Ayat 99-104

99. Demikianlah[6] Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu[7], dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (Al Quran)[8] dari sisi Kami.

100. Barang siapa berpaling darinya (Al Qur'an)[9], maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat (dosa)[10] pada hari kiamat,

101. Mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan sungguh buruk beban dosa itu bagi mereka pada hari kiamat[11],

102. pada hari (kiamat) sangkakala ditiup (yang kedua kali)[12] dan pada hari itu Kami kumpulkan orang-orang yang berdosa dengan wajah biru muram[13],

103. mereka saling berbisik satu sama lain, "Kamu tinggal (di dunia) tidak lebih dari sepuluh (hari)."

104. Kami lebih mengetahui apa yang akan mereka katakan[14], ketika orang yang paling lurus jalannya[15] mengatakan, "Kamu tinggal (di dunia), tidak lebih dari sehari saja[16].”

Ayat 105-113: Keadaan pada hari kiamat.



وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا (١٠٥) فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا (١٠٦) لا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلا أَمْتًا (١٠٧) يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا (١٠٨) يَوْمَئِذٍ لا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلا (١٠٩) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا (١١٠) وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا (١١١) وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا يَخَافُ ظُلْمًا وَلا هَضْمًا (١١٢) وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا وَصَرَّفْنَا فِيهِ مِنَ الْوَعِيدِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ أَوْ يُحْدِثُ لَهُمْ ذِكْرًا (١١٣)

Terjemah Surat Thaha Ayat 105-113

105. Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung[17], maka katakanlah, "Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya[18],

106. Kemudian Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu rata sama sekali,

107. (sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana[19].”

108. Pada hari itu mereka mengikuti (panggilan) penyeru[20] tanpa berbelok-belok (membantah)[21]; dan semua suara tunduk merendah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga yang kamu dengar hanyalah bisik-bisik[22].

109. Pada hari itu tidak berguna syafaat[23] (pertolongan), kecuali dari orang yang telah diberi izin oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan dia diridhai perkataannya[24].

110. Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.

111. Dan semua wajah tertunduk di hadapan Allah Yang Hidup dan Yang Berdiri Sendiri. Sungguh rugi orang yang melakukan kezaliman[25].

112. Dan barang siapa mengerjakan amal saleh sedang dia dalam keadaan beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya)[26] dan tidak (pula) khawatir akan pengurangan haknya[27].

113. Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab[28], dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman[29], agar mereka bertakwa, atau agar Al Quran itu memberi pengajaran bagi mereka[30].


[1] Yakni aku melihat Jibril ketika datang untuk membinasakan Fir’aun yang tidak mereka (bani Israil) lihat.

[2] Yang dimaksud dengan jejak rasul menurut mayoritas mufassir ialah jejak telapak kuda Jibril ‘alaihis salam, artinya Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu ia lemparkan ke dalam logam yang sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara.

[3] Maksudnya, agar Samiri hidup terpencil sendiri sebagai hukuman di dunia, sehingga tidak ada yang mendekatinya, bahkan jika ada orang yang mendekatinya, ia (Samiri) akan berkata kepadanya, “Janganlah engkau menyentuhku dan mendekat kepadaku.” Adapun sebagai hukuman di akhirat, ia akan ditempatkan di dalam neraka.

[4] Maka Musa melakukan hal itu, jika seandainya patung itu pantas disembah tentu dia akan melawan Musa dan mengalahkannya, namun ternyata ia tidak berbuat apa-apa. Ketika itu kecintaan menyembah patug sudah meresap di hati bani Israil, maka Musa menghancurkannya di hadapan mereka, dengan dibakar dan dihambur-hamburkan ke lautan agar rasa cinta mereka kepada patung hilang. Di samping itu, membiarkannya dapat membuat mereka terfitnah, karena dalam jiwa manusia terdapat pendorong kepada kebatilan.

[5] Setelah jelas kebatilan menyembah patung, maka Musa memberitahukan kepada mereka siapa yang sesungguhnya berhak diibadahi.

[6] Yakni sebagaimana Kami kisahkan kepadamu kisah ini, wahai Muhammad.

[7] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan nikmat kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengisahkan berita orang-orang terdahulu, seperti kisah yang sebelumnya disebutkan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali tidak belajar dari orang-orang yang mengetahui kisah itu dan tidak belajar kepada Ahli Kitab, oleh karenanya hal ini menunjukkan bahwa Beliau adalah utusan Allah dan apa yang Beliau bawa adalah hak (benar).

[8] Al Qur’an disebut dzikr (peringatan atau pengingat), karena Al Qur’an mengingatkan berita-berita yang terdahulu, mengingatkan nama-nama dan sifat Allah yang sempurna, mengingatkan hukum-hukum berupa perintah dan larangan, mengingatkan hukum-hukum jaza’i (pembalasan), dsb. Oleh karena itu, Al Qur’an wajib diterima, diikuti, dimuliakan, diambil cahayanya yang menunjuki ke jalan yang lurus, didatangi dengan dipelajari, diamalkan dan diajarkan. Adapun jika menyikapinya dengan berpaling darinya atau bersikap yang lebih parah dari itu, seperti mengingkari dan mendustakan, maka sama saja kufur kepada nikmat itu, dan barang siapa yang melakukan demikian maka ia pantas menerima hukuman sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[9] Dengan tidak beriman, meremehkan perintah dan larangannya atau tidak mau mempelajari kandungannya yang wajib.

[10] Dosa akan berubah menjadi azab bagi pelakunya, dan azab itu disesuaikan besar-kecilnya tergantung dosa yang dikerjakan.

[11] Seburuk-buruk beban adalah beban yang mereka pikul, dan seburuk-buruk azab adalah azab yang diterima mereka pada hari kiamat.

[12] Yaitu tiupan untuk membangkitkan manusia dari kuburnya atau menghidupkannya kembali.

[13] Mata mereka biru, sedangkan muka mereka hitam. Adapun orang-orang yang bertakwa dikumpulkan kepada Ar Rahman seperti kafilah yang terhormat.

[14] Tentang hal tersebut, yakni tidak seperti yang mereka katakan.

[15] Yang dimaksud dengan lurus jalannya adalah orang yang agak lurus pikirannya atau amalannya di antara orang-orang yang berdosa itu.

[16] Syaikh As Sa’diy berkata, “Maksud daripadanya adalah penyesalan yang dalam, mereka menyia-nyiakan waktu yang singkat itu dan melewatinya dalam keadaan lupa dan lalai, berpaling dari hal yang bermanfaat bagi mereka, mendatangi hal yang membahayakan mereka. Sekarang tiba pembalasan dan telah terwujud ancaman, sehingga tidak ada lagi selain penyesalan, ucapan kecelakaan dan kebinasaan.”

[17] Yakni bagaimanakah keadaannya pada hari kiamat? Atau, apa yang dilakukan Tuhanmu terhadapnya?

[18] Dia akan mencabut dari tempat-tempatnya, lalu dijadikan seperti bulu atau pasir, dihancurkan-Nya lalu dijadikan-Nya seperti debu yang berterbangan, dan menjadi rata dengan bumi.

[19] Oleh karena itu suara panggilan terdengar oleh mereka semua dan mereka semua terlihat tidak tertutupi.

[20] Yang dimaksud dengan penyeru di sini ialah malaikat yang memanggil manusia untuk menghadap ke hadirat Allah. Menurut As Suhailiy, dia adalah malaikat Israfil.

[21] Mereka tidak sanggup menolak atau tidak mengikuti. Menurut Syaikh As Sa’diy, hal itu adalah ketika mereka dibangkitkan dari kubur dan bangun darinya, lalu mereka dipanggil oleh penyeru untuk datang dan berkumpul ke padang mahsyar, lalu mereka semua mengikuti dengan segera dan tidak menoleh, tidak miring ke kanan maupun ke kiri.

[22] Yaitu suara pijakan kaki ketika menuju ke padang mahsyar. Mereka menunggu keputusan Ar Rahman, wajah-wajah mereka tertunduk. Ketika itu, engkau melihat orang kaya dan orang miskin, laki-laki dan wanita, orang merdeka dan budak, raja dan rakyatnya, semuanya terdiam, mereka tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada mereka, dan masing-masing sibuk terhadap urusannya tidak peduli lagi terhadap bapak dan saudaranya, kawan dan kekasihnya. Ketika itu, Hakim Yang Maha Adil (Allah) memberikan keputusan, orang yang berbuat baik akan dibalas dengan ihsan-Nya dan orang yang berbuat buruk akan memperoleh kerugian dan kekecewaan.

[23] Syafaat adalah usaha perantaraan dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau menghindarkan suatu mudharat bagi orang lain. syafaat yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa'at bagi orang-orang kafir.

[24] Yakni diridhai syafaatnya, seperti para nabi dan rasul, hamba-hamba-Nya yang didekatkan yang perkataan dan amalnya diridhai Allah, yaitu orang mukmin yang ikhlas. Jika salah satu di antara perkara ini (yakni mendapat izin dan perkataannya diridhai) tidak ada, maka seseorang tidak bisa memberikan syafaat kepada yang lain. Ketika itu, manusia terbagi menjadi dua bagian: pertama, orang yang zalim karena perbuatan kufur dan maksiatnya, maka mereka hanya memperoleh kerugian dan kekecewaan, azab yang pedih di neraka Jahanam dan kemurkaan Allah. Kedua, orang yang mengimani apa saja yang diperintahkan untuk diimani serta mengerjakan amal saleh (yang wajib maupun yang sunat), maka ia tidak perlu khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula) khawatir akan pengurangan haknya.

[25] Yakni kemusyrikan atau kekafiran.

[26] Seperti ditambah keburukannya.

[27] Seperti dikurangi kebaikannya, bahkan dosa-dosanya akan diampuni, aibnya akan dibersihkan dan kebaikannya akan dilipatgandakan.

[28] Yang kalian pahami, di mana lafaz dan maknanya tidak ada yang samar.

[29] Terkadang dengan menyebutkan nama-nama-Nya yang menunjukkan keadilan-Nya dan berkuasa menimpakan hukuman, terkadang menyebutkan hukuman yang ditimpakan-Nya kepada umat-umat terdahulu dan memerintahkan agar mengambil pelajaran dari mereka, terkadang dengan menyebutkan pengaruh dosa, terkadang dengan menyebutkan peristiwa dahsyat pada hari kiamat, terkadang dengan menyebutkan Jahanam dan berbagai siksa di dalamnya. Semua itu merupakan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bertakwa kepada Allah dan meninggalkan maksiat dan keburukan yang sesungguhnya membahayakan mereka.

[30] Sehingga mereka sadar dan mau mengerjakan ketaatan dan kebaikan yang memang memberikan manfaat bagi mereka. Diulang-ulangnya ancaman dan menggunakan bahasa yang mereka pahami merupakan sebab terbesar agar mereka bertakwa dan beramal saleh.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Thaha Ayat 95-113"

Post a Comment