Tafsir Al Kahfi Ayat 86-98

Ayat 86-89: Kekuasaan Dzulqarnain terhadap bumi bagian barat dan hukumnya di sana dengan keadilan, menolong kaum dhu’afa dan mencegak tindakan orang-orang yang melakukan kerusakan.

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا (٨٦) قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا (٨٧) وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا (٨٨)ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا (٨٩

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 86-89

86. Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihat matahari terbenam[1] di dalam laut yang berlumpur hitam, dan di sana ditemukannya suatu kaum (tidak beragama). Kami berfirman, "Wahai Dzulkarnain! Engkau boleh menghukum[2] atau berbuat kebaikan[3] kepada mereka.

87. [4]Dia (Dzulkarnain) berkata, "Barang siapa berbuat zalim[5], Kami akan menghukumnya[6], lalu Dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, kemudian Tuhan mengazabnya dengan azab yang sangat keras.

88. Adapun orang yang beriman dan beramal saleh, maka dia mendapat (pahala yang terbaik) sebagai balasan[7], dan akan Kami sampaikan kepadanya perintah Kami yang mudah[8].

89. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain)[9].



Ayat 90-98: Kekuasaan Dzulqarnain terhadap bumi bagian timur, dan bagaimana Beliau membangun dinding untuk menghalangi Ya’juj dan Ma’juj bercampur baur dengan manusia, dan bahwa keluarnya mereka merupakan tanda dekatnya hari Kiamat.

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا (٩٠) كَذَلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا (٩١) ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا (٩٢)حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلا (٩٣) قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا (٩٤) قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا (٩٥) آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (٩٦) فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (٩٧)قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا (٩٨

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 90-98

90. Hingga ketika dia sampai di tempat terbit matahari (sebelah Timur) didapatinya (matahari) bersinar di atas suatu kaum[10] yang tidak Kami buatkan suatu pelindung[11] bagi mereka dari (cahaya) matahari itu,

91. Demikianlah, dan sesungguhnya Kami mengetahui segala sesuatu yang ada padanya (Dzulkarnain)[12].

92. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi)[13].

93. Hingga ketika dia sampai di antara dua gunung[14], didapatinya di belakang kedua gunung itu suatu kaum yang hampir tidak memahami pembicaraan[15].

94. Mereka berkata, "Wahai Dzulkarnain! Sungguh, Ya'juj dan Ma'juj[16] itu (sekelompok manusia) yang berbuat kerusakan di bumi[17], maka bolehkah kami membayarmu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka[18]?"

95. Dia (Dzulkarnain) berkata, "Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu)[19], maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka,

96. Berilah aku potongan-potongan besi[20]!” Hingga ketika (potongan) besi itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Dzulkarnain) berkata, "Tiuplah (api itu)!” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu)[21].”

97. Maka mereka (Ya’juj dan Ma’juj) tidak dapat mendakinya[22] dan tidak dapat (pula) melubanginya[23].

98. Dia (Dzulkarnain) berkata, "(Dinding) ini[24] adalah rahmat dari Tuhanku[25], maka apabila janji Tuhanku sudah datang[26], Dia akan menghancurluluhkannya[27]; dan janji Tuhanku itu benar.”


[1] Maksudnya, sampai ke pantai sebelah barat, di mana Dzulqarnain melihat matahari sedang terbenam.

[2] Seperti membunuh, menawan, memukul, dsb.

[3] Yaitu dengan menyeru mereka beriman.

[4] Dzulkarnain mengetahui siyasat (politik) yang syar’i berkat taufiq dari Allah kepadanya, oleh karenanya dia berkata seperti di atas.

[5] Yakni berbuat syirk.

[6] Yakni membunuhnya.

[7] Yaitu surga.

[8] Yakni kami akan berbuat baik kepadanya, berkata yang lembut dan bermu’amalah dengan kemudahan kepadanya serta memerintah dengan perintah yang mudah. Hal ini menunjukkan bahwa Iskandar Dzulkarnain termasuk raja yang saleh, adil dan ‘alim (berilmu), di mana ia menyesuaikan sikapnya dengan keridhaan Allah dalam bermu’amalah dengan manusia.

[9] Yakni ke arah timur.

[10] Mereka ini adalah orang-orang negro.

[11] Seperti pakaian atau atap karena liarnya hidup mereka dan karena tanah mereka tidak dapat didirikan bangunan di atasnya, namun mereka mempunyai terowongan yang mereka bersembunyi di sana ketika matahari terbit dan menampakkan diri ketika matahari meninggi.

[12] Allah mengetahui semua keadaannya, keadaan tentaranya, keadaan perlengkapannya, dll.

[13] Yakni dari timur menuju utara.

[14] Yang berhadapan; di mana antara keduanya ada celah. Dari sanalah Ya’juj dan Ma’juj keluar mendatangi negeri-negeri Turki, lalu mengadakan kerusakan dan membinasakan ternak dan tanaman (lihat tafsir Ibnu Katsir).

[15] Maksudnya, mereka tidak bisa memahami bahasa orang lain, karena bahasa mereka sangat jauh perbedaannya dengan bahasa yang lain, dan mereka pun tidak dapat menerangkan maksud mereka dengan jelas karena kurangnya kecerdasan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan sebab-sebab ilmu kepada Dzulkarnain sehingga dapat memahami bahasa dan maksud kaum tersebut, di mana isi dan maksud perkataan mereka disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[16] Ya'juj dan Ma'juj adalah dua bangsa yang membuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh bangsa Tartar dan Mongol. Mereka keturunan Yafits anak Nabi Nuh ‘alaihis salam.

[17] Seperti melakukan pembunuhan dan perampasan ketika keluar ke tengah-tengah manusia yang lain.

[18] Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mampu membangun sendiri dinding tersebut dan mereka mengetahui kemampuan Dzulkarnain. Oleh karena itu, mereka siap memberikan upah kepada Dzulkarnain dan menyebutkan alasannya, yaitu karena Ya’juj dan Ma’juj melakukan kerusakan di bumi. Akan tetapi, Dzulkarnain adalah raja yang mukmin lagi saleh, beliau tidak tamak kepada dunia dan tidak tinggal diam membiarkan keadaan rakyatnya, bahkan tujuan beliau adalah memperbaikinya, oleh karenanya beliau mau memenuhi permintaan mereka karena ada maslahatnya, tidak meminta upah dan bersyukur kepada Allah Tuhannya yang telah memberikan kemampuan kepadanya, beliau berkata, “(Dinding) ini adalah rahmat dari Tuhanku,” (lihat ayat 98).

[19] Yakni oleh karena itu, biarlah aku buatkan penghalang itu tanpa perlu diupah.

[20] Sepotongnya seukuran batu. Ketika itu di antara potongan-potongan besi itu disediakan kayu bakar dan arang, dan diletakkan di sekitarnya alat peniup api.

[21] Sehingga menyatu dengan besi tersebut.

[22] Karena tinggi dan licin.

[23] Karena keras dan tebal.

[24] Bisa juga maksudnya kemampuan untuk membuatnya.

[25] Yakni nikmat, karunia dan ihsan-Nya kepadaku, karena dinding tersebut dapat menghalangi Ya’juj dan Ma’juj keluar ke tengah-tengah manusia yang lain. Seperti inilah keadaan para pemimpin yang saleh. Ketika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan nikmat yang banyak kepadanya, maka rasa syukur dan pengakuan mereka terhadap nikmat tersebut bertambah, sebagaimana perkataan Nabi Sulaiman ketika dihadapkan kepadanya kerajaan Saba’, “Ini adalah karunia Tuhanku agar Dia mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur,” Berbeda dengan orang-orang yang sombong dan bersikap semena-mena di bumi, nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka menambah mereka semakin sombong, sebagaimana yang dilakukan Qarun ketika dikaruniakan kekayaan yang besar, ia berkata, “Ini karena kepandaianku.” Nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[26] Untuk keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.

[27] Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda tentang dinding itu,

يَحْفِرُونَهُ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى إِذَا كَادُوا يَخْرِقُونَهُ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَتَخْرِقُونَهُ غَدًا فَيُعِيدُهُ اللَّهُ كَأَشَدِّ مَا كَانَ حَتَّى إِذَا بَلَغَ مُدَّتَهُمْ وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَتَخْرِقُونَهُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَاسْتَثْنَى قَالَ فَيَرْجِعُونَ فَيَجِدُونَهُ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ فَيَخْرِقُونَهُ فَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ فَيَسْتَقُونَ الْمِيَاهَ وَيَفِرُّ النَّاسُ مِنْهُمْ

"Mereka melubanginya setiap hari, sehingga ketika mereka hampir berhasil melubanginya, pemimpin mereka berkata, "Kembalilah! kalian bisa melubanginya besok!", lantas Allah mengembalikan tembok itu tertutup dan seperti kemarin. Sampai apabila masa mereka sudah tiba, dan Allah hendak membangkitkan mereka di tengah-tengah manusia, maka pemimpin mereka berkata, "Kembalilah kalian, kalian akan bisa melubanginya besok, insya Allah!" ia mengucapkan insya Allah. Besoknya mereka kembali, sedangkan tembok itu masih seperti keadaan ketika mereka tinggalkan kemarin, lantas mereka pun berhasil melubanginya dan bisa berbaur dengan manusia. Mereka pun meminum banyak air dan orang-orang lari karena takut kepada mereka." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, hadits ini shahih)

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Al Kahfi Ayat 86-98"

Post a Comment