Tafsir Maryam Ayat 22-40

Ayat 22-23: Kisah Maryam puteri Imran, kebersihannya dan kehormatannya, dan tentang kelahiran Nabi Isa ‘alaihis salam.

فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا (٢٢) فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (٢٣)

Terjemah Surat Maryam Ayat 22-23

22. [1]Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh[2].

23. Maka rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata[3], "Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan[4].”

Ayat 24-40: Nabi Isa ‘alaihis salam sebagai manusia, tuduhan terhadap Maryam dan pembelaan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada ibunya, perbedaan berbagai golongan dalam menilai Nabi Isa ‘alaihis salam dan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua.



فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (٢٤)وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (٢٥) فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (٢٦) فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (٢٧) يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا (٢٨) فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (٢٩) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (٣٠)وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (٣١) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (٣٢) وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (٣٣)ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (٣٤) مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ سُبْحَانَهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٣٥) وَإِنَّ اللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٣٦)فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ مَشْهَدِ يَوْمٍ عَظِيمٍ (٣٧) أَسْمِعْ بِهِمْ وَأَبْصِرْ يَوْمَ يَأْتُونَنَا لَكِنِ الظَّالِمُونَ الْيَوْمَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٣٨) وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الأمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٣٩) إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الأرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ (٤٠

Terjemah Surat Maryam Ayat 24-40

24. Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, "Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu[5].

25. dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,

26. Maka makan[6], minum[7] dan bersenang hatilah engkau[8]. Jika engkau melihat seseorang[9], maka katakanlah, "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa[10] untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini[11].”

27. [12]Kemudian dia (Maryam) membawa dia (bayi itu) kepada kaumnya dengan menggendongnya. Mereka (kaumnya) berkata, "Wahai Maryam! Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar[13].

28. Wahai saudara perempuan Harun (Maryam)[14]! Ayahmu bukan seorang yang buruk perangai dan ibumu bukan seorang perempuan pezina[15].”

29. Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)nya. Mereka berkata, "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?"

30. Dia (Isa) berkata, "Sesungguhnya aku hamba Allah[16], Dia memberiku kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi[17],

31. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi[18] di mana saja[19] aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat[20] dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

32. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka[21].

33. [22]Dan kesejahteraan[23] semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

34. Itulah[24] Isa putra Maryam; sebagai perkataan yang benar[25], yang mereka ragukan kebenarannya.

35. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak[26], Mahasuci Dia[27]. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu[28], maka Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu[29].

36. (Isa berkata), “Dan sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu[30], maka sembahIah Dia[31]. Ini adalah jalan yang lurus[32].”

37. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka[33]. Maka celakalah orang-orang kafir[34] pada waktu menyaksikan hari yang agung![35]

38. Alangkah tajam pendengaran mereka dan alangkah terang penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada kami. Tetapi orang-orang yang zalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata[36].

39. Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan[37], (yaitu) ketika segala perkara telah diputuskan. Sedang mereka[38] dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.

40. [39]Sesungguhnya Kamilah yang mewarisi bumi[40] dan semua yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami mereka dikembalikan[41].


[1] Lalu malaikat Jibril meniupkan roh ke leher bajunya, kemudian tiupan itu masuk ke farji Maryam sehingga ia mengandung dengan izin Allah Ta’ala.

[2] Yakni karena khawatir orang-orang menuduh yang tidak-tidak terhadapnya.

[3] Maryam merasakan rasa sakit melahirkan, rasa lapar tidak ada makanan dan minuman, ditambah rasa sakit hatinya terhadap kata-kata dan tuduhan manusia terhadapnya serta khawatir tidak mampu bersabar, akhirnya Maryam mengucapkan kata-kata di atas.

[4] Ucapan pengandaian di atas didasari terhadap hal yang dikhawatirkannya itu, namun sesungguhnya pengandaian ini tidak ada kebaikan dan maslahatnya, bahkan kebaikan dan maslahat terdapat pada taqdir yang akan terjadi itu. Ketika itulah, malaikat menenteramkan hatinya, menenangkan kegelisahannya dan memanggilnya dari tempat yang rendah sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[5] Di mana engkau dapat meminum airnya.

[6] Yakni kurma yang matang tersebut.

[7] Dari anak sungai tersebut.

[8] Dengan anakmu itu. Ucapan ini untuk menenteramkannya yang menunjukkan akan selamatnya dari derita melahirkan, dan akan memperoleh makanan dan minuman. Adapun untuk menenteramkannya dari ucapan manusia, maka diperintahkan kepadanya apabila ia melihat seseorang yang mempertanyakannya agar berkata dengan isyarat, bahwa dirinya sedang menahan diri dari berbicara dengan manusia.

[9] Lalu mempertanyakan kamu.

[10] Yakni menahan diri dari berbicara tentangnya.

[11] Maksudnya, Maryam tidak berbicara dengan manusia agar ia dapat beristirahat terhadap ocehan mereka. Ketika itu, sudah masyhur, bahwa diam termasuk ibadah yang disyari’atkan. Maryam tidak diperintahkan menjawab manusia ketika itu untuk membela dirinya, karena manusia tidak akan membenarkannya, dan lagi tidak ada faedahnya. Di samping itu agar pembersihan dirinya melalui perkataan Nabi Isa ‘alaihis salam ketika masih dalam buaian, di mana Nabi Isa merupakan saksi terkuat yang menunjukkan kebersihan ibunya. Hal itu, karena seorang wanita yang datang membawa anak tanpa ada bapaknya termasuk dakwaan terkuat yang jika diadakan beberapa orang saksi yang menunjukkan kebersihan dirinya tentu tidak akan diterima. Oleh karena itu, dijadikan bukti kebersihannya dengan sesuatu yang luar biasa, yaitu berbicaranya Nabi Isa ‘alaihis salam ketika masih dalam buaian. Sungguh dalam hikmah Allah dan sungguh luas ilmu-Nya, dan kita menjadi saksi terhadapnya.

[12] Setelah Maryam selesai dari nifasnya.

[13] Maksud mereka adalah perbuatan zina, karena ia membawa seorang anak tanpa bapak. Mereka tidak memperhatikan lagi terhadap kemasyhuran dirinya yang bersih dan suci.

[14] Maryam dipanggil saudara perempuan Harun, karena ia seorang wanita yang saleh seperti kesalehan Nabi Harun ‘alaihis salam. Namun menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa Maryam memang saudara perempuan Harun, namun Harun di sini bukan Harun bin Imran saudara Nabi Musa, karena antara keduanya berbeda jauh abadnya. Ketika itu, sudah biasa menamai anak-anak yang lahir di kalangan mereka dengan nama para nabi.

[15] Hal itu, karena sudah biasa, bahwa keturunan itu mengikuti orang tuanya dalam kesalehan. Oleh karena itu, mereka heran terhadapnya.

[16] Nabi Isa ‘alaihis salam menerangkan keadaan dirinya, bahwa ia adalah hamba Allah, tidak memiliki sifat-sifat ketuhanan sekaligus bukan anak tuhan seperti yang disangka oleh orang-orang Nasrani, Mahasuci Allah dari apa yang diucapkan orang-orang Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa ‘alaihis salam tetapi menyelisihinya dalam hal ini.

[17] Inilah posisi yang Allah berikan kepada Isa ‘alaihis salam sebagaimana nabi-nabi yang lain, yaitu sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya. Hamba yang menunjukkan tidak boleh disikapi dengan sikap ifrath (berlebihan) sampai dituhankan, dan rasul atau nabi yang menunjukkan tidak boleh disikapi dengan sikap tafrith (meremehkan), sehingga harus ditaati perintahnya, dijauhi larangannya, dibenarkan perkataannya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

[18] Yakni bermanfaat bagi manusia. Isa ‘alaihis salam di samping keadaan dirinya yang sempurna, yakni sebagai seorang nabi, beliau juga menyempurnakan orang lain dengan memberikan manfaat kepada mereka, seperti mengajarkan kebaikan kepada mereka, mengajak mereka kepada Allah (da’wah ilallah) dan melarang kemungkaran. Siapa saja yang duduk atau berkumpul dengannya, maka akan memperoleh keberkahannya, dan orang yang menemaninya akan bahagia.

[19] Dan kapan saja.

[20] Yakni Dia memerintahkan kepadaku agar memenuhi hak-Nya, di mana hak yang termasuk paling agungnya adalah shalat. Demikian juga memenuhi hak hamba-hamba-Nya, yang paling besarnya adalah zakat.

[21] Yakni bermaksiat kepada Allah, bahkan Dia menjadikan aku seorang yang taat, tunduk, khusyu’ dan merendahkan diri kepada Allah, bertawadhu’ kepada hamba-hamba Allah.

[22] Yakni karena karunia Tuhanku dan kemurahan-Nya aku memperoleh keselamatan dari berbagai keburukan, setan, dan dari azab.

[23] Dari Allah.

[24] Yakni yang disifati dengan sifat-sifat tersebut adalah Isa putra Maryam.

[25] Berita yang Allah sebutkan inilah yang benar, sedangkan berita yang menyelisihinya adalah dusta. Oleh karena itu mereka meragukan kebenarannya.

[26] Yakni mustahil Dia mempunyai anak, karena Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji, Milik-Nya semua yang ada di langit dan di bumi, maka bagaimana mungkin Dia mengambil hamba dan milik-Nya sebagai anak?!

[27] Dari memiliki anak dan dari segala kekurangan.

[28] Baik sesuatu yang besar maupun kecil, tidaklah berat bagi-Nya.

[29] Termasuk di antaranya adalah penciptaan Isa tanpa bapak, yang demikian mudah bagi-Nya.

[30] Yakni Dialah Yang Menciptakan kita, membentuk rupa kita, mengatur kita dan memberlakukan kepada kita taqdir-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Isa ‘alaihis salam adalah tauhid sebagaimana para nabi yang lain, dan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak mengajak untuk menyembah dirinya, bahkan mengajak menyembah Allah saja.

[31] Di ayat ini terdapat ikrar terhadap rububiyyah Allah dan uluhiyyah-Nya. Keberhakan-Nya untuk diibadahi karena Dia adalah Rabbul ‘aalamin (Tuhan semesta alam).

[32] Yang dapat menyampaikan ke surga.

[33] Yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani atau antara sesama Yahudi atau sesama Nasrani. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa Isa putra Allah, ada yang mengatakan tuhan di samping Allah, ada yang mengatakan bahwa Isa salah satu di antara yang tiga, dan ada pula yang tidak mengakui kerasulan Isa, bahkan menuduhnya sebagai anak zina seperti halnya orang-orang Yahudi. Semua perkataan ini adalah batil, didasari atas keraguan dan penentangan. Bahkan Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya sebagaimana nabi-nabi yang lain.

[34] Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak mengatakan, “Maka celakalah mereka” yang kembalinya kepada golongan-golongan itu, tetapi kecelakaan ditujukan kepada orang-orang yang kafir, karena di antara golongan yang berbeda itu ada golongan yang sesuai dengan kebenaran, di mana golongan itu mengatakan tentang Isa, bahwa Beliau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, mereka inilah orang-orang mukmin.

[35] Yaitu hari kiamat, hari yang disaksikan oleh penghuni langit dan bumi, disaksikan oleh Al Khaliq dan makhluk, penuh dengan peristiwa yang menegangkan, dan di sana terdapat pembalasan terhadap amal. Ketika itulah, semakin nyata apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan.

[36] Mereka tuli dari mendengarkan yang hak dan buta dari melihatnya. Mereka tidak memiliki alasan sedikit pun, karena keadaan mereka adalah sebagai orang yang menentang lagi sesat padahal mengetahui (yakni mengetahui yang benar tetapi berpaling darinya) atau sebagai orang yang sesat dari jalan yang benar, tetapi mampu mengetahui yang hak, tetapi lebih ridha dengan kesesatannya dan keburukan amalnya serta tidak mau berusaha mengetahui yang hak. Namun pada hari kiamat pendengaran mereka begitu tajam dan penglihatan mereka begitu terang. Mereka akan berkata, "Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah Kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." (Terj. As Sajdah: 12).

[37] Yaitu hari kiamat, karena ketika itu banyak orang yang menyesal disebabkan tidak berbuat ihsan di dunia. Penyesalan apa yang lebih besar daripada penyesalan ketika seseorang tidak mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya, bahkan malah mendapatkan neraka, dan lagi di sana tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri. Maka beramallah wahai saudaraku, sebelum tiba hari yang di sana bukan lagi saat untuk beramal, bahkan yang ada adalah pembalasan terhadap amal.

[38] Saat ini (di dunia).

[39] Manusia banyak yang terlena oleh dunia, padahal dunia beserta isinya akan ditinggalkan penghuninya dan akan diwarisi oleh Allah, lalu mereka dikembalikan kepada-Nya untuk diberikan balasan. Oleh karena itu, barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka pujilah Allah, dan barang siapa yang mengerjakan selain itu, maka janganlah ada yang ia cela selain dirinya.

[40] Mewarisi bumi maksudnya, setelah alam semesta ini hancur semuanya, maka Allah-lah yang kekal.

[41] Untuk diberikan balasan.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Maryam Ayat 22-40"

Post a Comment