Tafsir Thaha Ayat 124-135

Ayat 124-127: Penjelasan tentang orang yang berpaling dari jalan Al Qur’an dan keadaannya di akhirat.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (١٢٥)قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (١٢٦)وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى (١٢٧

Terjemah Surat Thaha Ayat 124-127

124. Dan barang siapa berpaling[1] dari peringatan-Ku[2], maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit[3], dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”


[1] Tidak mau mengamalkannya atau lebih parah dari itu, yaitu tidak beriman dan mendustakannya.

[2] Yakni Al Qur’an.



[3] Yakni hidupnya di dunia sempit, tidak tenang dan tenteram, dadanya tidak lapang, bahkan terasa sempit dan sesak karena kesesatannya meskipun keadaan luarnya memperoleh kenikmatan, memakai pakaian mewah, memakan makanan yang enak dan tinggal di mana saja yang ia kehendaki, namun hatinya jika tidak di atas keyakinan yang benar dan petunjuk, maka tetap dalam kegelisahan, keraguan dan kebimbangan. Hal ini termasuk ke dalam kehidupan yang sempit. Ibnu Abbas berkata tentang kehidupan yang sempit, yaitu kesengsaraan. Menurut Abu Sa’id, kehidupan yang sempit adalah disempitkan kuburnya sehingga tulang rusuknya bertabrakan.

125. Dia berkata[4], "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat[5]?"

[4] Karena hina, merasa berat menerimanya dan karena bosan dengan keadaan yang dialami.

[5] Yakni ketika di dunia dan ketika dibangkitkan.

126. Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya[6], jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan[7].”


[6] Meninggalkannya dan tidak beriman kepadanya.



[7] Dibiarkan dalam azab.

127. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas[8] dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya[9]. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal[10].

[8] Yakni melewati batasan yang ditetapkan, mengerjakan perbuatan yang diharamkan, seperti halnya yang dilakukan orang-orang kafir dan musyrik.

[9] Oleh karena itu, Allah tidaklah berbuat zalim dan tidak mungkin meletakkan hukuman yang bukan pada tempatnya. Yang demikian adalah disebabkan sikapnya yang melampaui batas dan tidak beriman kepada petunjuk yang diturunkan-Nya untuk kebaikan dirinya.

[10] Dari azab di dunia dan dari azab kubur.

Ayat 128-135: Pembinasaan terhadap umat-umat yang kafir, pentingnya menjaga shalat dan ridha terhadap pembagian Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأولِي النُّهَى (١٢٨) وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَكَانَ لِزَامًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى (١٢٩) فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى (١٣٠) وَلا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى (١٣١) وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (١٣٢) وَقَالُوا لَوْلا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِنْ رَبِّهِ أَوَلَمْ تَأْتِهِمْ بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الأولَى (١٣٣) وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُمْ بِعَذَابٍ مِنْ قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَذِلَّ وَنَخْزَى (١٣٤) قُلْ كُلٌّ مُتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوا فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ أَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِيِّ وَمَنِ اهْتَدَى (١٣٥

Terjemah Surat Thaha Ayat 128-135

128. Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (orang-orang musyrik)[11] berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan[12], padahal mereka melewati (bekas-bekas) tempat tinggal mereka (umat-umat itu)[13]? Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)[14] bagi orang-orang yang berakal[15].


[11] Yakni yang membuat mereka menempuh jalan yang lurus dan menjauhi kesesatan.

[12] Karena mendustakan rasul.

[13] Yakni ketika mereka bepergian ke Syam dan lainnya yang seharusnya mereka ambil pelajaran darinya.

[14] Ada pula yang menafsirkan, “Terdapat pelajaran-pelajaran” atau “Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran risalah para rasul dan batilnya sikap mereka selama ini, yaitu menolak seruan para rasul.”

[15] Karena hanya merekalah yang dapat mengambil manfaat dari peristiwa-peristiwa yang menimpa orang-orang terdahulu.

129. [16]Dan kalau tidak ada suatu ketetapan terdahulu dari Tuhanmu serta tidak ada batas yang telah ditentukan (ajal)[17], pasti (siksaan itu) menimpa mereka.


[16] Ayat ini dan setelahnya merupakan hiburan bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan agar Beliau bersabar dari meminta disegerakan azab untuk orang-orang yang mendustakan, dan bahwa kekafiran serta pendustaan mereka merupakan sebab turunnya azab kepada mereka. Ditahannya azab adalah karena ketetapan Allah sampai tiba waktunya, dan agar mereka kembali dan bertobat sehingga azab itu diangkat dari mereka. Oleh karena itulah, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar terhadap ucapan mereka dan memerintahkan mengambil gantinya dan menjadikan sebagai pembantunya, yaitu bertasbih dengan memuji Tuhannya di waktu-waktu yang utama, yaitu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, di penghujung siang, di waktu-waktu malam, agar dengan begitu Beliau menjadi ridha dengan pemberian Allah berupa pahala di dunia dan di akhirat, hati Beliau tenteram dan puas dengan beribadah kepada Allah serta merasa terhibur dari gangguan mereka sehingga bersabar terasa ringan bagi Beliau.

[17] Dengan ditundanya azab sampai tiba hari kiamat.

130. Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah[18] dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit[19] dan sebelum terbenam[20]; dan bertasbihlah (pula) pada waktu-waktu di malam hari[21] dan di ujung siang hari[22], agar engkau merasa senang[23],


[18] Ada yang menafsirkan dengan shalat.

[19] Yaitu shalat Subuh.

[20] Yaitu shalat ‘Ashar.

[21] Yaitu dengan melakukan shalat Maghrib dan Isya.

[22] Yaitu shalat Zhuhur, karena ketika itu matahari sudah condong ke barat.

[23] Dengan pemberian Tuhanmu berupa pahala yang akan diberikan.

131. Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu[24] kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka[25], (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu[26]. Karunia Tuhanmu[27] lebih baik[28] dan lebih kekal[29].

Jangan memuji dan menyanjung mereka karena kagum terhadap peradaban, akhlak dan kemajuan teknologi mereka tanpa melihat akidah mereka yang bathil dan agama mereka yang rusak. 

[24] Yakni merasa kagum.

[25] Seperti makanan dan minuman yang enak, pakaian yang indah, harta yang banyak, rumah yang besar, wanita yang cantik, dsb. Sesungguhnya semua itu bunga kehidupan dunia, di mana orang-orang yang tertipu bersenang-senang dengannya, demikian pula orang-orang zalim. Perhiasan itu akan hilang dan ditinggalkan, menyakitkan hati pencintanya dan mereka akan menyesal pada hari kiamat serta akan mereka ketahui bahwa Allah menjadikannya sebagai ujian dan cobaan agar Dia mengetahui siapa yang tergoda dan siapa yang tidak tergoda, yakni tetap baik perbuatannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.--Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (Terj. Al Kahfi: 7-8)

[26] Sehingga mereka berbuat melampaui batas.

[27] Baik yang segera (di dunia) maupun yang ditunda (di akhirat). Rezeki yang segera berupa ilmu, iman dan hakikat-hakikat amal saleh, sedangkan rezeki yang ditunda berupa kenikmatan yang kekal dan kehidupan yang sejahtera di dekat Ar Rahman (yakni Surga). Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka.

[28] Dari kenikmatan yang diberikan kepada mereka di dunia.

[29] Dalam ayat ini terdapat isyarat, bahwa seorang hamba apabila melihat dirinya tergiur oleh perhiasan dunia, maka hendaknya ia ingat kenikmatan akhirat dan membandingkan keduanya.

132. Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat[30] dan sabar dalam mengerjakannya[31]. Kami tidak meminta rezeki kepadamu[32], Kamilah yang memberi rezeki kepadamu[33]. Dan akibat (yang baik)[34] adalah bagi orang yang bertakwa[35].


[30] Yang fardhu maupun yang sunat. Perintah kepada sesuatu, berarti perintah pula kepada semua yang menjadikan shalat sempurna. Termasuk juga perintah mengajarkan mereka (keluarga) tentang shalat, seperti yang wajib dalam shalat dan yang sunahnya, demikian pula yang membatalkan shalat dan yang makruh dalam shalat.

[31] Dengan menegakkannya, mengerjakan rukun-rukun, adab-adab dan khusyu’nya. Hal ini memang berat bagi jiwa, akan tetapi perlu dipaksa dan dikerahkan kemampuan sehingga terbiasa. Yang demikian karena apabila seseorang sudah mengerjakan shalat sesuai yang diperintahkan dan menjaganya, maka terhadap perintah-perintah agama yang lain, maka dia akan mampu menjaganya. Sebaliknya, jika shalatnya tidak diperhatikan bahkan ditinggalkan, maka perintah-perintah agama yang lain tentu akan ditinggalkan. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjamin tentang masalah rezeki, yakni janganlah hal itu terlalu dipikirkan sampai kurang memberikan perhatian terhadap perintah-perintah agama.

[32] Yakni Kami tidak membebanimu agar engkau memberikan rezeki untuk dirimu dan untuk selainmu.

[33] Jika semua makhluk sudah ditanggung rezekinya, maka bagaimana dengan orang yang menegakkan perintah-perintah-Nya dan sibuk mengingat-Nya? Tentu Dia akan lebih menanggungnya. Rasulullah shallalllahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَقُوْلُ رَبُّكُمْ يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ غِنًى وَأَمْلَأُ يَدَكَ رِزْقًا يَا ابْنَ آدَمَ لَا تُبَاعِدْ مِنِّيْ أَمْلَأُ قَلْبَكَ فَقْرًا وَأَمْلَأُ يَدَكَ شُغْلاً

Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

[34] Baik di dunia dan di akhirat.

[35] Rezeki Allah merata ke semua orang, baik yang bertakwa maupun yang tidak, oleh karena itu, perlu lebih memperhatikan sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan abadi, yaitu takwa.

133. Dan mereka[36] berkata, "Mengapa dia tidak membawa tanda (bukti) kepada Kami dari Tuhannya[37]?" Bukankah telah datang kepada mereka[38] bukti (yang nyata)[39] sebagaimana yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu[40]?”


[36] Yakni orang-orang musyrik atau orang-orang yang mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[37] Sesuai yang mereka usulkan (lihat surah 90-92). Usul mereka merupakan usul yang menyusahkan diri, pembangkangan dan kezaliman. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia seperti halnya mereka, tidak pantas diminta bukti sesuai hawa nafsu mereka, bahkan bukti kerasulannya sudah Allah turunkan dan Allah pilih sesuai hikmah (kebijaksanaan)-Nya. Di samping itu, perkataan mereka, "Mengapa dia tidak membawa tanda (bukti) kepada Kami dari Tuhannya.” Menunjukkan bahwa Allah tidak menurunkan bukti kebenarannya. Hal ini adalah dusta, padahal Alah Subhaanahu wa Ta'aala telah mendatangkan mukjizat dan ayat-ayat yang tujuan tersebut sudah tercapai dengan sebagian ayat-ayat itu.

[38] Jika mereka benar ucapannya dan bahwa mereka mencari yang hak dengan dalilnya.

[39] Yaitu Al Qur’an.

[40] Al Quranul Karim membenarkan apa yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu, seperti Taurat, Injil dan kitab-kitab dahulu lainnya serta sesuai dengannya, beritanya seperti yang diberitakan kitab-kitab terdahulu yang masih murni. Ayat ini seperti ayat yang berbunyi, “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Terj. Al ‘Ankabut: 51) Oleh karena itu, ayat-ayat Al Qur’an hanyalah bermanfaat bagi orang-orang mukmin, di mana dengannya keimanan dan keyakinan mereka bertambah. Adapun orang-orang yang berpaling darinya lagi menentangnya, maka mereka tidak beriman kepadanya dan tidak dapat mengambil manfaat darinya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman,--Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Terj. Yunus: 96-97) Bahkan disampaikan ayat-ayat itu kepada mereka faedahnya adalah untuk menegakkan hujjah dan agar mereka tidak mengatakan, “Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina dan rendah.”

134. Dan kalau mereka Kami binasakan dengan suatu siksaan sebelumnya (Al Quran diturunkan)[41], tentulah mereka berkata[42], "Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, sehingga kami mengikuti ayat-ayat-Mu sebelum kami menjadi hina[43] dan rendah[44]?"


[41] Bisa juga diartikan, “Sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus.”

[42] Pada hari kiamat.

[43] Di hari kiamat.

[44] Dengan masuk ke neraka Jahanam.

135. Katakanlah (Muhammad)[45], "Masing-masing (kita) menanti[46], maka nantikanlah olehmu! Dan kelak kamu akan mengetahui[47], siapa yang menempuh jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk[48].”

[45] Kepada orang-orang yang mendustakanmu, yang berkata, “Kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya" (lihat Ath Thuur: 30)

[46] Yakni nantikanlah kematianku olehmu, dan aku menanti azab untukmu. Tidak ada yang kamu nantikan dariku selain dua kebaikan; kemenangan atau syahid. Sedangkan kami menantikan untukmu azab dari sisi Allah atau melalui tangan kami.

[47] Pada hari kiamat.

[48] Untuk menempuh jalan yang lurus itu, yakni aku atau kamu. Orang yang menempuhnya adalah orang yang berhasil, selamat dan beruntung, sedangkan orang yang menyimpang darinya akan rugi, kecewa dan tersiksa. Jelas, orang yang berada di atas jalan yang lurus adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikutnya, sedangkan musuh-musuhnya tidak berada di atasnya.

======================

Tafsir [Thâhâ / 20:132]

Ini adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan perintah kepada Nabi juga sekaligus perintah kepada umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Dan memang tidak ada dalil yang mengkhususkannyadi sini. Maka menjadi kewajiban setiap orang tua dan wali seorang anak, agar ia benar-benar memperhatikan anak-anak mereka dan memantauterus tentang shalat mereka, yang merupakan rukun Islam paling agung setelah dua kalimat syahadat.Setelah orang tua benar-benar menjaga shalat dirinya sendiri, sehingga ia menjadi teladan bagi sang anak; kemudian ia memantau anak-anaknya, dengan memberikan motivasi agar selalu menunaikan dan menjaga shalatnya.

Ayat ini menunjukkan dua hal agung yang harus direalisasikan:

1.Seseorang harus memperhatikan dirinya dalam menjaga dan bersabar dalam mendirikan shalat. Sebab dalam hidup ini banyak hal yang bisa memalingkan dari shalat, dan membuatnya tidak bisa menjaga shalat pada waktunya. Jadi, banyak hal yang membuat seseorang lalai. Karena kondisi seperti ini, maka seseorang perlu untuk bersabar, bersungguh-sungguh dan terus memantau diri, agar istiqamah dalam menjaga shalatnya.

2.Memberikan perhatian terhadap mereka yang berada di bawah kendalinya, seperti istri maupun anak. Yaitu dengan memberikan pengajaran untuk selalu menjaga shalat, dan selalu memantau mereka. Dalam hal ini, terdapat hadits dari riwayat Abu Daud dalam Sunannya, dari hadits Abdullah Bin Amr Bin Al-Ash radhiyallâhu ‘anhumâ ; bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat, sedangkan mereka berusia 7 tahun. Dan pukullah mereka bila meninggalkannya ketika berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka (anak lelaki dan perempuan) dalam hal tempat tidur.

Mereka harus diperhatikan dan dipantau semenjak usia dini. Semenjak usia 7 tahun, anak sudah diperintahkan dan didorong untuk mendirikan shalat. Bila ia melalaikan shalat, padahal ia telah berusia 10 tahun, maka ia bisa dipukul dengan pukulan ringan yang tidak melukai. Ini adalah pukulan pengajaran, bukan untuk menyakiti.

Kedudukan shalat sangatlah agung. Bila diperhatikan, banyak kelalaian berasal dari pihak orang tua. Masih ada orang tua yang menyia-nyiakan shalat, sehingga ia tidak bisa menjadi contoh baik untuk anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya tumbuh dengan melalaikan dan menyia-nyiakan shalat. Karena mereka tumbuh sesuai dengan didikan orang tua.

Sungguh, perilaku orang tua yang menyepelekan masalah shalat terhadap anak-anaknya, merupakan perilaku yang sangat buruk. Perhatikanlah ucapan Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, yang mengkhususkan para bapak dalam masalah yang sangat penting ini. Beliau berkata: “Barangsiapa tidak memperhatikan untuk mengajarkan hal bermanfaat kepada anaknya, namun justru ia meninggalkannya begitu saja, maka sungguh ia telah berbuat sangat buruk sekali kepada sang anak. Yang sering terjadi, rusaknya anak disebabkan karena orang tua, yang tidak memperhatikan mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama. Para bapak telah menyia-nyiakan mereka saat kecil, sehingga sang anak tidak bisa bermanfaat bagi dirinya, dan juga tidak bisa memberi manfaat kepada orangtua mereka di saat dewasa.”

Sungguh benar wahai kaum muslimin. Masalah ini adalah hal yang sangat penting sekali. Sehingga yang pertama-tama, orang tua haruslah bisa menasihati dirinya sendiri; kemudian menasihati istri dan anak-anak; dengan memberi pengajaran tentang masalah shalat; serta mengajak mereka agar selalu menjaga shalat.

Sedangkan engkau wahai anak! Bila Allah memuliakanmu dengan mempunyai orang tua yang memperhatikan masalah shalatmu, maka jangan sekali-kali engkau merasa terusik atau dongkol dikarenakan orang tua selalu memantau shalatmu! Karena sesungguhnya orang tua sejatinya tengah berusaha menyelamatkanmu dari murka Allah, guna menuju ridha Allah Ta’ala.

Perhatikanlah pujian Allah yang begitu harum kepada Nabi Isma’il `alaihis shalâtu wassalâm. Allah berfirman:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Dan ia (Isma’il) menyuruh ahlinya (yaitu keluarga dan juga umatnya) untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. [Maryam / 19:55]

Benar! Beliau seorang yang diridhai Allah. Sebab ia telah mengambil sebab-sebab, yang dengannya ia mendapatkan ridha Allah. Dan yang paling besar adalah perhatiannya terhadap shalat, dengan menjaganya, dan mengajarkannya pada anak-anaknya serta mendidik mereka untuk selalu menjaganya.

Di samping itu, kitapun harus dengan tulus memohon kepada Allah, agar Allah menjadikan kita dan anak-anak kita termasuk orang yang ahli shalat dan selalu menjaganya. Dan di antara doa agung terkait hal ini adalah doa Nabi Ibrahim `alaihis shalâtu wassalâm:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. [Ibrâhîm /14:40]

Imam Malik meriwayatkan dalam Muwaththa’ dari Zaid Bin Aslam dari ayahnya : bahwa Umar Bin Al-Khatthab –semoga Allah meridhainya- biasa shalat malam sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Hingga bila tiba di penghujung malam, beliau membangunkan keluarganya untuk shalat. Beliau berseru: “Shalat, shalatlah!” Kemdian beliau membacakan ayat ini:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Maka, renungkanlah bagaimana keadaan kaum salafus shalih menyikapi arahan rabbani yang agung ini! Kemudian bandingkan dengan keadaan banyak manusia yang menyepelekan shalat; serta bagaimana mereka tidak mengajarkan kewajiban yang agung ini! Kita memohon kepada Allah agar memberi taufiq kepada kita, untuk selalu menjaga shalat. Dan agar Allah memperbaiki anak-anak dan keluarga kita. Serta agar menjadikan kita dan mereka termasuk orang-orang yang selalu menegakkan shalat.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Thaha Ayat 124-135"

Post a Comment