Tafsir Al Anbiya Ayat 48-61

Ayat 48-50: Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam dan turunnya kitab Taurat.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ (٤٨)الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ (٤٩) وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (٥٠

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 48-50

48. [1]Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, furqan (kitab Taurat)[2] dan penerangan[3] serta pelajaran[4] bagi orang-orang yang bertakwa[5],

49. (yaitu) orang-orang yang takut (azab) Tuhannya, sekalipun mereka tidak melihat-Nya[6], dan mereka merasa takut akan (peristiwa) hari kiamat.

50. Dan ini (Al Quran) adalah suatu peringatan[7] yang mempunyai berkah[8] yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?

Ayat 51-61: Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama kaumnya, dialognya dengan mereka dan penghancuran Beliau terhadap patung-patung mereka.

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (٥١) إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (٥٢) قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (٥٣) قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٥٤)قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ (٥٥) قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (٥٦) وَتَاللَّهِ لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (٥٧) فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (٥٨) قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (٥٩) قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (٦٠) قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (٦١)

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 51-61

51. [9]Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk[10], dan Kami telah mengetahui dia[11].

52. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya[12]?"

53. [13]Mereka menjawab, "Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya[14].”

54. Ibrahim berkata, "Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata[15].”

55. Mereka berkata[16], "Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran[17] atau engkau main-main?"

56. Dia (Ibrahim) menjawab, "Sebenarnya Tuhan kamu[18] ialah Tuhan (Pemilik) langit dan bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya[19]; dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu[20].”

57. [21]Dan demi Allah, Sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya[22].

58. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan berhala-berhala itu berkeping-keping[23], kecuali yang terbesar bagi mereka[24]; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

59. Mereka berkata[25], "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim."

60. Mereka (yang lain) berkata, "Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim[26].”

61. Mereka berkata, "(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan[27].”


[1] Syaikh As Sa’diy berkata, “Sering sekali Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung dua kitab yang agung ini, di mana tidak pernah datang ke dunia kitab yang lebih utama daripada keduanya, lebih agung namanya dan lebih berkah, serta lebih agung petunjuk dan penjelasannya, yaitu Taurat dan Al Qur’an. Allah memberitahukan, bahwa Dia telah memberikan kepada Musa pada asalnya, dan Harun mengikuti, yaitu al Furqan yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, petunjuk dan kesesatan…dst.”

[2] Furqan artinya yang membedakan antara yang hak dengan yang batil, dan antara yang halal dengan yang haram.

[3] Yakni cahaya yang dipakai petunjuk untuk menerangi jalan hidup, dan dengannya diketahui hukum-hukum, dibedakan antara yang halal dan yang haram, serta sebagai penerang di gelapnya kesesatan.

[4] Yakni nasehat. Dengannya mereka dapat mengingat hal yang bermanfaat bagi mereka dan hal yang membahayakan, dan dengannya mereka dapat mengingat kebaikan dan keburukan.

[5] Disebutkan secara khusus orang-orang yang bertakwa, karena merekalah yang dapat mengambil manfaat daripadanya, baik sebagai ilmu maupun amal. Pada ayat selanjutnya diterangkan tentang siapakah orang-orang yang bertakwa.

[6] Bisa juga diartikan, di saat manusia tidak melihatnya atau di saat sepi. Jika di saat sepi saja mereka merasa takut kepada azab Tuhan mereka, bagaimana pada saat berada di hadapan manusia? Tentu lebih takut lagi. Oleh karena itu, mereka menjaga diri dari apa yang diharamkan dan mengerjakan apa yang diwajibkan.

[7] Dengan Al Qur’an, teringatlah semua tuntutan, seperti dapat mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-Nya dan perbuatan-Nya, mereka dapat pula mengenal sifat-sifat para rasul, wali, dan keadaan mereka. Demikian pula, mereka dapat mengenal hukum-hukum syara’ berupa ibadah, mu’amalah, dsb. Mengenal pula hukum-hukum tentang pembalasan, surga, dan neraka. Demikian pula, dengan Al Qur’an manusia dapat mengenal berbagai masalah dan dalil-dalil yang ‘aqli (akal) maupun naqli (wahyu). Allah menamai Al Qur’an dengan dzikr, yang artinya ingat, karena ia mengingatkan apa yang Allah tanam dalam akal dan fitrah manusia berupa membenarkan berita-berita yang benar, perintah mengerjakan yang baik dan larangan mengerjakan yang buruk.

[8] Yakni banyak kebaikannya, berkembang lagi bertambah. Tidak ada sesuatu pun yang lebih besar berkahnya daripada Al Qur’an ini. Hal itu, karena setiap kebaikan dan nikmat, maka disebabkan olehnya dan pengaruh dari mengamalkannya. Oleh karena Al Qur’an merupakan peringatan yang mempunyai berkah, maka wajib diterima dan diikuti serta bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, dijunjung, dan digali keberkahannya dengan mempelajari lafaz-lafaz dan maknanya. Adapun menyikapinya dengan berpaling atau bahkan mengingkari serta tidak beriman kepadanya, maka yang demikian termasuk kekafiran yang paling besar, kebodohan dan kezaliman yang paling besar. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka apakah kamu mengingkarinya?”

[9] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang Musa dan Muhammad shallallahu 'alaihima wa sallam serta kitab keduanya, Dia memberitahukan, bahwa sebelum diutus-Nya Musa dan Muhammad serta diturunkan kitab keduanya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memperlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda kerajaan-Nya di langit dan bumi (lihat Al An’aam: 75), dan memberikan petunjuk kepadanya, yang dengannya diri Ibrahim menjadi sempurna dan dia mengajak manusia kepada petunjuk itu yang tidak diberikan-Nya kepada seorang pun kecuali Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, disandarkan petunjuk itu kepada-Nya karena petunjuk itu sesuai keadaan Ibrahim dan ketinggian kedudukannya. Jika tidak demikian, maka sesungguhnya setiap mukmin mendapat petunjuk sesuai iman yang ada padanya.

[10] Sebelum Ibrahim mencapa usia baligh.

[11] Yakni kelayakannya untuk memperoleh petunjuk itu karena kebersihan dirinya dan kecerdasannya. Oleh karena itu, disebutkan perdebatan Beliau dengan kaumnya, larangan Beliau terhadap perbuatan syirk, tindakannya menghancurkan patung-patung dan mengalahkan mereka dengan hujjah yang menunjukkan kelayakan dirinya memperoleh petunjuk.

[12] Yakni apa sesungguhnya patung-patung itu? Apa kelebihan dan kehebatannya sehingga pantas disembah? Dan di mana akal kamu sehingga kamu menghabiskan waktu untuk menyembahnya? Kamu yang membuatnya, sedangkan patung-patung itu lemah, tidak sanggup berbuat apa-apa, bahkan lebih lemah dari dirimu?

[13] Mereka menjawab tanpa ilmu dan menjawab dengan jawaban yang lemah.

[14] Yakni sehingga kami mengikuti. Padahal sudah maklum, perbuatan manusia selain rasul bukanlah hujjah dan tidak berhak diikuti terlebih dalam pokok-pokok agama. Oleh karena itu, Ibrahim menyatakan sesat semuanya.

[15] Yakni jelas sekali kesesatannya bagi setiap orang yang berakal.

[16] Karena menganggap aneh perkataan Ibrahim dan menganggapnya sebagai sesuatu yang besar.

[17] Dan serius.

[18] Yang berhak untuk disembah.

[19] Tanpa contoh sebelumnya.

[20] Dalam perkataan ini, Beliau berdalih terhadap keberhakan Allah untuk diibadahi dengan rububiyyah-Nya.

[21] Setelah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menerangkan bahwa patung-patung yang mereka sembah tidak mampu mengatur dan menguasai apa-apa, maka Beliau ingin memperlihatkan kepada mereka dengan tindakan yang menunjukkan lemahnya patung-patung itu dan tidak dapat membela dirinya sendiri.

[22] Ucapan ini menurut sebagian mufassir diucapkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.dalam hatinya saja. Maksudnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam akan menjalankan tipu dayanya untuk menghancurkan berhala-berhala mereka, setelah mereka meninggalkan tempat-tempat berhala itu.

[23] Ketika kaumnya pergi ke tempat perkumpulan mereka di hari raya, Ibrahim diam-diam pergi mendatangi oatung-patung yang mereka sembah, lalu Beliau menghancurkannya dengan kapak.

[24] Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tidak menghancurkan patung yang paling besarnya karena ada maksud yang diinginkannya, yaitu agar mereka kembali (bertanya) kepada patung besar mereka itu sehingga mereka mengetahui bahwa patung itu tidak bisa memberikan jawaban apa-apa terhadap mereka. Syaikh As Sa’diy berkata, “Perhatikanlah kehati-hatian yang mengagumkan ini, semua yang dibenci Allah (seperti patung, dsb.) tidak digunakan lafaz-lafaz agung (seakan-akan ia agung dan besar) selain disebutkan pula idhafat (penyandarannya) bagi orang-orangnya (tertentu), sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika menulis surat kepada raja-raja negara yang musyrik, Beliau mengatakan, “Kepada Pembesar Persia”, “Kepada Pembesar Romawi”, dsb, dan tidak mengatakan, “Kepada Pembesar” (tanpa disandarkan). Di sini Alah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman, “kecuali yang terbesar bagi mereka.”. Oleh karena itu, hal ini perlu diingat dan agar berhati-hati tidak mengagungkan sesuatu yang dianggap hina oleh Allah kecuali jika disandarkan kepada orang-orang yang mengagungkannya.”

[25] Ketika mereka kembali dan menyaksikan kadaan patung-patung sesembahan mereka.

[26] Mungkin di antara mereka ada yang mendengar perkataan Ibrahim, bahwa Beliau akan melakukan tipu daya terhadapnya, wallahu a’lam.

[27] Yakni bahwa Ibrahimlah pelakunya. Inilah yang diinginkan Ibrahim, yaitu dapat menerangkan yang hak dan menegakkan hujjah di hadapan banyak manusia. Hal ini seperti yang diinginkan Musa ketika mengadakan perjanjian dengan Fir’aun untuk bertemu, Beliau berkata, “Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu duha.” (Terj. Thaha: 59)

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Al Anbiya Ayat 48-61"

Post a Comment