Tafsir Al Anbiya Ayat 1-10

Surah Al Anbiya’ (Para Nabi)

Surah ke-21. 112 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-10: Membicarakan tentang dekatnya hari Kiamat dan agar manusia mempersiapkan diri untuk menghadapinya, keadaan manusia yang lalai terhadapnya dan terhadap Al Qur’an, cemoohan kaum musyrik terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan terhadap wahyu yang dibawanya serta bantahan Al Qur’an terhadapnya, menyebutkan sifat para rasul, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala membela mereka dan membinasakan orang-orang kafir.



اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ (١) مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٢) لاهِيَةً قُلُوبُهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَى الَّذِينَ ظَلَمُوا هَلْ هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَفَتَأْتُونَ السِّحْرَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ (٣) قَالَ رَبِّي يَعْلَمُ الْقَوْلَ فِي السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٤) بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الأوَّلُونَ (٥) مَا آمَنَتْ قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَفَهُمْ يُؤْمِنُونَ (٦) وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٧) وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ (٨) ثُمَّ صَدَقْنَاهُمُ الْوَعْدَ فَأَنْجَيْنَاهُمْ وَمَنْ نَشَاءُ وَأَهْلَكْنَا الْمُسْرِفِينَ (٩) لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلا تَعْقِلُونَ (١٠

Terjemah Surat Al Anbiya Ayat 1-10

1. [1]Telah semakin dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka[2], sedang mereka dalam lalai (dengan dunia)[3] lagi berpaling (dari akhirat)[4].

2. Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan[5], mereka mendengarkannya[6] sambil bermain-main[7],

3. hati mereka dalam keadaan lalai[8]. Dan orang-orang yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka[9], "Orang ini (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang manusia (juga) seperti kamu. Apakah kamu menerima sihir itu[10], padahal kamu menyaksikannya[11]?"

4. Dia (Muhammad) berkata, "Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi[12], dan Dia Maha Mendengar[13] lagi Maha Mengetahui[14]!”

5. Bahkan mereka mengatakan, "(Al Quran itu buah) mimpi-mimpi yang kacau[15], atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair[16], cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda (bukti), seperti halnya rasul-rasul yang diutus dahulu[17].”



6. Penduduk suatu negeri sebeIum mereka, yang telah Kami binasakan, mereka itu tidak beriman (padahal telah Kami kirimkan bukti) [18]. Apakah mereka akan beriman[19]?

7. Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki[20] yang Kami beri wahyu kepada mereka, [21]maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu[22], jika kamu tidak mengetahui[23].

8. Dan Kami tidak menjadikan mereka suatu tubuh yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal (di dunia).

9. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki[24], dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas[25].

10. Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah kitab (Al Qur’an) yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan kamu[26]. Maka apakah kamu tidak mengerti[27]?


[1] Ayat ini merupakan ta'ajjub (keanehan) terhadap keadaan manusia yang tetap saja lalai dan berpaling, dan seperti inilah keadaan mayoritas manusia -kecuali orang yang mendapatkan ‘inayah (perhatian) dari Allah-, di mana peringatan dan nasehat tidak bermanfaat bagi mereka, padahal hari penghisaban dan pembalasan terhadap amal mereka telah dekat. Mereka lalai terhadap sesuatu yang karenanya mereka diciptakan (ibadah), dan berpaling dari peringatan. Seakan-akan mereka diciptakan untuk dunia, dan untuk bersenang-senanglah mereka dilahirkan ibu mereka. Namun demikian, Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa memperingatkan dan menasehati agar mereka kembali sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, tetapi mereka senantiasa dalam kelalaian lagi berpaling.

[2] Tentang maksud ayat ini ada dua pendapat; pertama, bahwa umat ini (umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) adalah umat terakhir dan rasulnya adalah rasul terakhir, dan kiamat tegak pada umat ini, karena telah dekat penghisabannya jika melihat kepada umat-umat sebelumnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

بُعِثْتُ أَنَا وَ السَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ

“(Jarak) aku dibangkitan dengan kiamat itu seperti dua jari ini.” Beliau menghubungkan kedua jarinya, yaitu antara jari telunjuk dengan jari setelahnya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Kedua, maksud dekatnya hisab adalah dekatnya maut, dan bahwa barang siapa mati, maka telah tegak kiamatnya dan telah masuk ke tempat pembalasan amal.

[3] Bisa juga maksudnya, lalai terhadap hari kiamat atau kematian.

[4] Yakni berpaling dari mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu.

[5] Yang mengingatkan mereka hal yang bermanfaat bagi mereka dan yang mendorongnya, serta mengingatkan hal yang berbahaya bagi mereka dan menakut-nakutinya.

[6] Namun sebatas penegakkan hujjah bagi mereka, nasihat itu masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.

[7] Seperti mengolok-olokkannya, atau sibuk memenuhi kebutuhan syahwatnya dan mengerjakan perbuatan yang batil atau sia-sia.

[8] Padahal keadaan mereka seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya hati mereka menerima perintah Allah dan telinga mereka mendengarkan dengan pendengaran yang meresap sampai ke hati, dan anggota badan mereka diarahkan untuk beribadah, di mana untuk itulah mereka diciptakan, serta memberikan perhatian terhadap hari kiamat, hisab dan pembalasan sehingga urusan mereka menjadi baik dan keadaan mereka lurus serta bersih amalnya.

[9] Sebagai bentuk pembangkangan dan sikap menolak yang hak dengan yang batil. Mereka mengadakan pembicaraan rahasia dan bersepakat untuk berkata tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam perkataan yang memojokkan, menyebutkan bahwa Beliau adalah manusia seperti halnya yang lain dan bertujuan untuk dilebihkan oleh manusia sehingga tidak perlu ditaati dan dibenarkan, dia adalah seorang pesihir dan bahwa apa yang dibawanya adalah sihir. Oleh karena itu, jauhilah dia dan buatlah orang-orang menjauh.

[10] Yang mereka maksud dengan sihir di sini ialah ayat-ayat Al Quran.

[11] Bahwa hal itu adalah sihir. Sebenarnya mereka mengetahui bahwa Beliau adalah utusan Allah dengan sebenarnya berdasarkan ayat-ayat yang mereka saksikan yang tidak disaksikan oleh yang lain. Akan tetapi kecelakaan, kezaliman dan pembangkanganlah yang membuat mereka berkata dan bersikap seperti itu.

[12] Dia akan memberikan balasan terhadapnya.

[13] Terhadap semua pembicaraan mereka secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

[14] Apa yang ada dalam hati.

[15] Seperti ucapan orang-orang yang tidur lalu mengigau, di mana ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.

[16] Orang yang memiliki pengetahuan meskipun sedikit tentang pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan apa yang Beliau bawa akan dapat memastikan bahwa Al Qur’an adalah ucapan yang paling agung dan paling mulia, dan bahwa ia berasal dari sisi Allah, dan bahwa seorang pun dari manusia tidak mampu mendatangkan yang semisalnya, sekalipun mereka berkumpul. Hal ini sebenarnya sudah cukup sebagai bukti kebenarannya.

[17] Mereka tidak tahu, bahwa sudah menjadi sunnatullah adalah barang siapa yang meminta bukti sesuai usulannya, lalu setelah didatangkan, namun tetap kafir, maka ia akan dibinasakan.

[18] Maksudnya adalah umat-umat yang dahulu telah meminta kepada rasul-rasulnya mukjizat sesuai usulan mereka dan Allah telah mendatangkan mukjizat itu, namun mereka tetap tidak juga beriman, lalu Allah menghancurkan mereka. Orang-orang musyrik itu jpun sama, kalau diberi mukjizat yang mereka minta itu, lalu mereka tidak beriman, maka Allah akan menyegerakan azab untuknya.

[19] Yakni apakah mereka akan beriman kepada rasul dan apa yang dibawanya jika bukti itu ditunjukkan? Pertanyaan ini maksudnya adalah nafyu (peniadaan), yakni mereka tentu tidak akan beriman juga.

[20] Bukan malaikat, dan bukan wanita. Ayat ini merupakan bantahan terhadap syubhat orang-orang yang mendustakan rasul yang mengatakan, “Mengapa rasul itu tidak seorang malaikat saja, sehingga tidak butuh makan, minum, pergi ke pasar? Demikian pula, mengapa mereka tidak kekal?” Allah menjawab syubhat ini, bahwa para rasul sebelum Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka semua adalah manusia, termasuk Nabi Ibrahim yang diakui semua kalangan dan bahwa mereka (orang-orang musyrik) –menurut persangkaannya- berada di atas ajarannya, padahal tidak.

[21] Jika kamu masih ragu-ragu dan tidak memiliki pengetahuan tentang keadaan para rasul dahulu.

[22] Seperti orang-orang yang mengetahui isi Taurat dan Injil.

[23] Ayat ini meskipun sebabnya khusus, yakni untuk bertanya keadaan para rasul kepada orang yang berpengetahuan (ahli ilmu), akan tetapi ia umum, sehingga apabila seseorang tidak memiliki ilmu tentang masalah agama yang ushul (dasar) maupun yang furu’ (cabang), maka ia diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam ayat ini tedapat perintah belajar dan bertanya kepada ahlinya. Kita tidak diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu, kecuali karena ahli ilmu berkewajiban mengajarkan dan menjawab sesuai yang mereka ketahui. Diperintahkan bertanya kepada ahli ilmu menunjukkan dilarangnya bertanya kepada orang yang terkenal kebodohannya dan tidak berilmu, dan larangan baginya untuk maju menjawab pertanyaan.

[24] Yakni orang-orang yang membenarkan para rasul.

[25] Yakni orang-orang yang mendustakan.

[26] Di dunia dan di akhirat, jika kamu membenarkan beritanya, mengerjakan perintah-perintah di dalamnya dan menjauhi larangan. Hal ini sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, baik dari kalangan sahabat maupun generasi setelahnya, ketika mereka mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya, Allah memberikan kemuliaan dan ketinggian kepada mereka sebagaimana dapat kita baca dalam sejarah kaum muslimin zaman dahulu. Adapun sekarang, ketika kaum muslimin meninggalkan Al Qur’an, mereka mendapatkan kebalikannya, yaitu kehinaan dan kerendahan.

[27] Tentang hal yang memberikan manfaat bagimu dan memadharratkan kamu. Jika kamu sebagai orang yang berakal, tentu kamu akan mendatangi kitab itu dan memberikan perhatian yang dalam.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Al Anbiya Ayat 1-10"

Post a Comment