Cari Blog Ini

Loading...

Tafsir Yasin Ayat 13-21

Ayat 13-19: Kisah penduduk suatu negeri yang didatangi para utusan agar menjadi pelajaran bagi penduduk Mekah.

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ (١٣) إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ (١٤) قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا تَكْذِبُونَ (١٥) قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ (١٦) وَمَا عَلَيْنَا إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (١٧) قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٨) قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (١٩)

Terjemah Surat Yasin Ayat 13-19

13. [1]Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri[2], ketika utusan-utusan[3] datang kepada mereka;

14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga[4], maka ketiga utusan itu berkata, "Sungguh, Kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”

15. Mereka (penduduk negeri) menjawab[5], "Kamu ini hanyalah manusia seperti kami[6] dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun[7], kamu hanyalah pendusta belaka.”

16. Mereka berkata[8], "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah utusan-utusan-(Nya)[9].

17. Dan kewajiban Kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas[10].”

18. Mereka[11] menjawab, "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu[12]. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam[13] kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”



19. Mereka (utusan-utusan) itu berkata, "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri[14]. Apakah karena kamu diberi peringatan[15](kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas[16].”

Ayat 20-21: Kesabaran para utusan dan kaum mukmin terhadap gangguan yang menimpa mereka, pentingnya teguh di atas ‘aqidah serta memberikan nasihat bagi orang lain.

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَى قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ (٢٠) اتَّبِعُوا مَنْ لا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٢١)

Terjemah Surat Yasin Ayat 20-21

20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas[17] dia berkata, "Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

21. [18]Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu[19]; dan [20]mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.


[1] Yakni buatlah perumpamaan untuk mereka yang mendustakan risalahmu dan menolak dakwahmu agar mereka mengambil pelajaran dan sebagai nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik kepada kebaikan. Perumpamaan itu adalah penduduk suatu negeri, apa yang mereka lakukan berupa sikap mendustakan para utusan dan apa yang terjadi pada mereka berupa ditimpa azab dan hukuman. Ditentukannya negeri itu jika memang ada faedahnya, tentu Allah akan sebutkan, oleh kaena itu menentukan nama negerinya termasuk memberatkan diri dan berbicara tanpa ilmu. Sehingga, apabila seseorang memberanikan diri berbicara tentang masalah seperti ini, tentu kita akan dapati di sisinya kekacauan, prercampuran dan perselisihan yang tidak ada tenangnya, di mana dari sini dapat diketahui, bahwa jalan yang ditempuh dalam ilmu yang benar adalah diam di hadapan hakikat dan tidak mendatangi sesuatu yang tidak ada faedahnya. Dengan begitu, maka jiwa menjadi bersih, ilmu bertambah dari arah yang orang jahil (bodoh) mengira bahwa bertambahnya ilmu dengan menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada hujjahnya dan tidak ada faedah daripadanya selain membingungkan pikiran dan terbiasa dengan perkara yang masih diragukan.

[2] Menurut sebagian ahli tafsir, yaitu negeri Anthakiyah.

[3] Ada yang berpendapat, bahwa mereka adalah utusan-utusan Nabi Isa ‘alaihis salam dari kalangan hawariyyin (sahabat setia Nabi Isa ‘alaihis salam), ada pula yang berpendapat, bahwa mereka adalah para utusan Allah (para rasul). Utusan-utusan tersebut mengajak penduduk tersebut beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan melarang mereka dari perbuatan syirk dan maksiat.

[4] Ini menunjukkan perhatian besar dari Allah kepada mereka dan penegakkan hujjah dengan berturt-turutnya para utusan.

[5] Dengan jawaban yang sudah masyhur dijawab oleh orang-orang yang menolak dakwah para rasul.

[6] Yakni apa kelebihanmu di atas kami? Maka para rasul menjawab, “Kami memang manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (lihat surah Ibrahim: 11).

[7] Mereka mengingkari semua risalah, dan mendustakan para utusan yang menyeru mereka.

[8] Yakni tiga orang utusan itu.

[9] Yakni kalau seandainya kami dusta, tentu Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menghinakan kami dan segera menghukum kami.

[10] Maksudnya, inilah tugas kami, yaitu menerangkan dengan jelas perkara yang dibutuhkan penjelasannya. Adapun selain ini, seperti mendatangkan hal yang luar biasa sebagai bukti (mukjizat), demikian pula disegerakannya azab, maka bukanlah tugas kami. Jika kamu mendapatkan petunjuk, maka itulah keberuntunganmu dan taufik untukmu, namun jika kamu tersesat, maka kami tidak bisa berbuat apa-apa.

[11] Penduduk negeri itu.

[12] Mereka tidak melihat kedatangan para rasul itu kepada mereka selain membawa keburukan dan membuat mereka bernasib malang. Hal ini merupakan sesuatu yang paling ajaib, yaitu menjadikan orang yang datang membawa nikmat yang paling agung (hidayah) dan paling penting bagi mereka sebagai orang yang datang membawa keburukan. Selanjutnya mereka mengancam para utusan tersebut sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayatnya.

[13] Rajam adalah membunuh dengan cara menimpukinya dengan batu.

[14] Yakni karena kekafiranmu, perbuatan syirkmu dan karena maksiatmu, di mana perbuatan itu menghendaki datangnya sesuatu yang tidak diinginkan, siksa dan tercabutnya hal yang dicintai dan nikmat.

[15] Dengan sesuatu yang terdapat kebaikan bagimu dan keuntungan untukmu.

[16] Seruan tiga orang utusan itu tidak menambah mereka selain menambah mereka jauh dan menyombongkan diri.

[17] Orang ini telah mendengar seruan rasul dan telah beriman kepadanya, dia ingin menasihati kaumnya ketika mendengar kaumnya malah mendustakan utusan-utusan itu.

[18] Selanjutnya orang tersebut menguatkan persaksian dan ajakannya.

[19] Yakni mereka tidak meminta harta dan upah terhadap nasihat dan bimbingannya kepada kamu. Orang yang seperti ini jelas layak diikuti.



[20] Mungkin timbul pertanyaan, “Memang para utusan itu tidak meminta upah atas ajakannya, namun apakah ajakannya benar atau salah?” Maka dengan kata-kata, “Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Semakin jelas keberhakan mereka untuk diikuti. Mereka mendapatkan petunjuk, karena mereka tidaklah mengajak kecuali kepada perbuatan yang dipandang oleh akal sehat sebagai kebaikan, dan tidak melarang kecuali dari perbuatan yang dipandang oleh akal yang sehat sebagai keburukan.
Read More...

Tafsir Yasin Ayat 1-12

Surah Yaasiin

Surah ke-36. 83 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-12: Pernyataan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu benar-benar seorang rasul, tugas Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, peringatan hanya bermanfaat bagi orang yang takut kepada Allah, sikap kaum musyrik terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan pertolongan Allah kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

يس (١) وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ (٢) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (٣) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٤) تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٥) لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ (٦) لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٧) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (٨) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ (٩) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (١٠) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (١١) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ (١٢)

Terjemah Surat Yasin Ayat 1-12

1. Yaa siin.

2. [1]Demi Al Quran yang penuh hikmah,

3. [2]Sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,

4. [3](yang berada) di atas jalan yang lurus,

5. [4] (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang,

6. [5]Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan[6], karena itu mereka lalai[7].



7. [8]Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.

8. [9]Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah[10].

9. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat[11].

10. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga[12].

11. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan[13] kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan[14] dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun mereka tidak melihat-Nya. [15]Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia (surga).

12. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati[16], [17]dan Kamilah yang mencatat[18] apa yang telah mereka kerjakan[19] dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan[20]. Dan segala sesuatu[21] Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).


[1] Ini adalah sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan Al Qur’anul Karim, di mana sifatnya adalah hikmah (bijaksana) dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, perintahnya tepat dan larangannya tepat, memberikan balasan pada tempatnya, hukum-hukum syar’i dan jaza’i(balasan)nya juga penuh dengan hikmah. Di antara kebijaksanaan Al Qur’an adalah menggabung antara menyebutkan hukum dengan hikmahnya, mengingatkan akal terhadap hal-hal yang sesuai dan sifat-sifat yang menghendaki untuk dihukumi.

[2] Ayat ini sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengatakan kepada Beliau, “Engkau bukan seorang rasul.” Firman-Nya, “Sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,” merupakan isi dari sumpah sebelumnya, yakni Allah bersumpah dengan Al Qur’an, bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk para rasul. Oleh karena itu, yang Beliau bawa sama dengan yang dibawa para rasul sebelumnya seperti dalam masalah-masalah ushul/pokok. Di samping itu, barang siapa yang memperhatikan keadaan para rasul dan sifat mereka, maka dia akan mengetahui bahwa Beliau termasuk rasul pilihan karena sifat-sifat sempurna yang Beliau miliki dan akhlak utama. Hal ini tidaklah samar, karena adanya hubungan yang kuat antara yang dipakai untuk bersumpah, yaitu Al Qur’an dan hal yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga jika seandainya tidak ada dalil dan saksi terhadap kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam selain Al Quranul Karim ini, tentu ia sudah cukup sebagai dalil dan saksi terhadap kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan Al Qur’anul Karim merupakan dalil terkuat yang menunjukkan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

[3] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan sifat yang paling besar bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan kerasulan Beliau, yaitu bahwa Beliau berada di atas jalan yang lurus, yang dapat menyampaikan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Jalan yang lurus tersebut mencakup ilmu (pengetahuan terhadap yang hak) dan amal, di mana amal tersebut adalah amal yang saleh; yang memperbaiki hati dan badan, dunia dan akhirat. Termasuk ke dalam amal saleh adalah akhlak yang utama yang membersihkan jiwa dan menyucikan hati serta mengembangkan pahala. Jalan yang lurus merupakan sifat bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan sifat bagi agama yang Beliau bawa. Maka perhatikanlah keagungan Al Qur’an ini, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung antara bersumpah dengan sesuatu yang paling mulia dipakai bersumpah dan hal agung yang disumpahkan (yaitu kerasulan Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam). Memang berita Allah saja yang menunjukkan kerasulan Beliau sudah cukup, akan tetapi Dia menegakkan dalil-dalil yang jelas dan bukti-bukti yang nyata di sini untuk menunjukkan kebenaran yang disumpahkan itu serta mengisyaratkan kepada kita untuk mengikuti jalannya.

[4] Jalan yang lurus itu diturunkan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang ke dalam kitab-Nya dan diturunkan-Nya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya. Jalan yang lurus itu dapat menyampaikan mereka kepada-Nya dan kepada surga-Nya. Maka dengan keperkasaan-Nya, Dia menjaga jalan itu dari perubahan dan dengan jalan itu, Dia merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat yang mengena kepada mereka sehingga dapat menyampaikan mereka ke tempat rahmat-Nya (surga). Oleh karena itulah, Dia tutup ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia; Al ‘Aziz dan Ar Rahiim.

[5] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah terhadap kerasulan Beliau dan menegakkan dalil terhadapnya, maka Allah menyebutkan tingginya tingkat kebutuhan manusia kepadanya dan sudah sangat mendesak sekali.

[6] Yakni berada di zaman fatrah (terputus pengiriman rasul).

[7] Dari iman dan petunjuk atau dari tauhid. Mereka ini adalah orang-orang Arab yang ummiy (buta huruf), mereka sebelumnya selalu kosong dari kitab dan rasul, kebodohan dan kesesatan telah merata menimpa mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengutus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Qur’an dan hikmah (As Sunnah), padahal mereka sebelumnya berada dalam kesesatan yang nyata, maka Beliau memberi peringatan kepada orang-orang Arab yang ummi dan orang-orang yang bertemu mereka, serta mengingatkan Ahli Kitab terhadap kitab yang ada pada mereka, maka dengan diutusnya Beliau merupakan nikmat dari Allah kepada bangsa Arab secara khusus dan kepada semua manusia secara umum. Akan tetapi, mereka yang didatangi rasul itu terbagi menjadi dua golongan: (1) Golongan yang menolak apa yang Beliau bawa dan tidak menerima peringatan itu, di mana tentang mereka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, kerena mereka tidak beriman.” (2) Golongan yang menerima peringatan sebagaimana yang disebutkan pada ayat 11 dalam surah Yaasiin ini.

[8] Yakni berlaku pada mereka qadha’ dan kehendak-Nya, bahwa mereka senantiasa dalam kekafiran dan kemusyrikan, dan dijatuhkan kepada mereka perkataan (hukuman) karena sebelumnya mereka telah disodorkan kebenaran, lalu mereka menolaknya, maka sebagai hukumannya hati mereka dicap.

[9] Menurut Syaikh As Sa’diy, selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan penghalang yang menghalangi masuknya iman ke dalam hati mereka.

[10] Yakni mengangkat kepalanya dan tidak sanggup menundukkannya. Menurut sebagian ahli tafsir, ayat ini merupakan tamtsil (perumpamaan) yang maksudnya adalah bahwa mereka tidak mau tunduk beriman.

[11] Ayat ini juga menurut sebagian ahli tafsir merupakan tamtsil yang menunjukkan tertutupnya jalan bagi mereka untuk beriman.

[12] Yakni bagaimana akan beriman orang yang telah dicap hatinya, di mana ia sudah melihat yang hak sebagai kebatilan dan yang batil sebagai hak.

[13] Yakni peringatan dan nasihatmu hanyalah bermanfaat bagi orang yang mengikuti peringatan, yaitu mereka yang niatnya adalah mengikuti kebenaran.

[14] Maksudnya peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah berguna bagi orang yang mau mengikutinya.

[15] Yakni barang siapa yang memiliki kedua sifat ini, yaitu niat yang baik dalam mencari yang hak (benar) dan rasa takut kepada Allah. Orang yang seperti inilah yang dapat mengambil manfaat dari risalah Beliau dan dapat membersihkan dirinya dengan pengajaran Beliau. Oleh karena itu, berikan kabar gembira kepadanya dengan ampunan dan pahala yang mulia terhadap amal mereka yang saleh dan niatnya yang baik.

[16] Yakni Kami bangkitkan mereka setelah matinya untuk diberikan balasan terjadap amal mereka.

[17] Abu Bakar Al Bazzar berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Ziyad As Saajiy. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Umar. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Al Jaririy dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Sesungguhnya Bani Salamah mengeluhkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jauhnya tempat tinggal mereka dari masjid, maka turunlah ayat, “dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Maka akhirnya mereka tetap tinggal di tempat tersebut. Ia (Al Bazzar) juga berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’la. (Ia berkata): Telah menceritakan kepada kami Al Jaririy Sa’id bin Ayas dari Abu Nadhrah dari Abu Sa’id radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang sama seperti itu. Menurut Ibnu Katsir, bahwa di sana terdapat keghariban (keasingan) karena disebutkan turunnya ayat ini, sedangkan surat tersebut semuanya adalah Makkiyyah. Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih kecuali ‘Abbad bin Ziyad, tentang dia terdapat pembicaraan sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi hadits ini telah dimutaba’ahkan sebagaimana yang kita lihat. Tirmidzi juga meriwayatkannya di juz 4 hal. 171 dan ia menghasankannya. Hakim di juz 2 hal. 428 juga meriwayatkan dan ia menshahihkannya namun didiamkan oleh Adz Dzahabi dari hadits Abu Sa’id Al Khudriy, akan tetapi di hadits itu dalam riwayat keduanya ada Tharif bin Syihab, sedankan dia adalah dha’if sekali sebagaimana dalam Al Mizan, namun orang tersebut dalam riwayat Hakim adalah Sa’id bin Tharif, mungkin saja sebagian rawi keliru dalam hal ini. Akan tetapi, hadits ini memiliki syahid dalam riwayat Ibnu Jarir rahimahullah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Rumah orang-orang Anshar berjauhan dari masjid, lalu mereka ingin pindah ke dekat masjid, maka turunlah ayat, “Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” Hadits ini melalui jalan Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah adalah mudhtharib, akan tetapi ia termasuk ke dalam syahid. Syaikh Muqbil berkata, “Adapun ucapan Ibnu Katsir rahimahullah, bahwa di sana terdapat keghariban karena surat terseut semua (ayat)nya adalah Makkiyyah, maka belum jelas arahnya bagiku. Kalau memang ayat ini turun di Mekah, maka tidaklah menghalangi turunnya dua kali, namun jika tidak pasti turunnya di Mekah, maka bisa saja surat ini Makkiyyah selain ayat itu sebagaimana yang sudah biasa, wallahu a’lam.” (Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzul hal. 193-194 oleh Syaikh Muqbil).

[18] Dalam Lauh Mahfuzh.

[19] Dalam hidup mereka; perbuatan baik atau buruk untuk diberikan balasan.

[20] Baik atau buruk bekas yang mereka tinggalkan, di mana mereka menjadi sebab ada tidaknya perbuatan itu baik di masa hidup mereka maupun setelah mati mereka, demikian pula amalan yang dilakukan karena ucapan, perbuatan dan keadaan mereka. Oleh karena itu, setiap kebaikan yang dikerjakan oleh seseorang disebabkan pengetahuannya, pengajarannya, dan nasihatnya, atau amar ma’ruf dan nahi mungkarnya atau ilmu yang dia tanamkan ke dalam diri siswa atau ia tulis dalam beberapa kitab yang kemudian dimanfaatkan baik pada masa hidupnya maupun setelah matinya, atau mengerjakan kebaikan, seperti shalat, zakat, sedekah dan berbuat ihsan, lalu diikuti oleh orang lain. Atau ia membangun masjid atau membuat suatu tempat yang kemudian dimanfaatkan oleh manusia, dsb. Maka hal itu termasuk bekas peninggalan yang dicatat pula, sebagaimana peninggalan buruk juga dicatat. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa mencontohkan dalam Islam contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan pula betapa tingginya kedudukan dakwah kepada Alah; membimbing manusia ke jalan-Nya dengan berbagai sarana dan jalan yang dapat mencapai kepadanya, dan menunjukkan rendahnya kediudukan orang yang mengajak kepada keburukan atau menjadi imam dalam hal ini, dan bahwa ia adalah makhluk paling hina, paling besar kejahatan dan dosanya.



[21] Baik amal, niat dan selainnya.
Read More...

Tafsir Fathir Ayat 39-45

Ayat 39-41: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengangkat manusia sebagai khalifah di bumi dan penjelasan tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya.

هُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ فِي الأرْضِ فَمَنْ كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِلا مَقْتًا وَلا يَزِيدُ الْكَافِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلا خَسَارًا (٣٩) قُلْ أَرَأَيْتُمْ شُرَكَاءَكُمُ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا فَهُمْ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْهُ بَلْ إِنْ يَعِدُ الظَّالِمُونَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا إِلا غُرُورًا (٤٠) إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ أَنْ تَزُولا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤١)

Terjemah Surat Fathir Ayat 39-41

39. [1]Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi. Barang siapa kafir, maka (akibat) kekafirannya akan menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kemurkaan di sisi Tuhan mereka[2]. Dan kekafiran orang-orang kafir itu hanya akan menambah kerugian mereka belaka[3].

40. [4]Katakanlah[5], "Terangkanlah olehmu tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah[6].” Perlihatkanlah kepada-Ku (bagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan[7]; ataukah mereka mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit[8] atau; atau adakah Kami memberikan kitab kepada mereka[9] sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas darinya[10]?[11]Sebenarnya orang-orang zalim itu, sebagian mereka hanya menjanjikan tipuan belaka kepada sebagian yang lain[12].

41. [13]Sungguh, Allah yang menahan langit dan bumi agar tidak lenyap; dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.



Ayat 42-45: Akibat yang akan diterima kaum musyrik, amal buruk akan kembali menimpa pelakunya, segala sesuatu akan binasa, sunnatullah dalam menunda azab hingga hari Kiamat.



وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَى مِنْ إِحْدَى الأمَمِ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلا نُفُورًا (٤٢) اسْتِكْبَارًا فِي الأرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا سُنَّةَ الأوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلا (٤٣) أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلا فِي الأرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا (٤٤)وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا (٤٥)



Terjemah Surat Fathir Ayat 42-45

42. Dan mereka[14] bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh bahwa jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain)[15]. Tetapi ketika pemberi peringatan[16] datang kepada mereka, tidak menambah (apa-apa) kepada mereka, bahkan semakin jauh mereka (dari kebenaran)[17],

43. Karena kesombongan (mereka) di bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat[18]. Rencana yang jahat itu hanya akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri[19]. Mereka hanyalah menunggu (berlakunya) ketentuan kepada orang-orang yang terdahulu[20]. Maka kamu tidak akan mendapatkan perubahan bagi ketentuan Allah[21], dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi ketentuan Allah itu[22].

44. [23]Dan tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul), padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka[24]? Dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi[25]. Sungguh, Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

45. [26]Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa (dosa) yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan makhluk melata di bumi ini[27], tetapi Dia (Allah) menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan[28]. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya[29].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya hikmah-Nya dan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dia menentukan dengan qadar-Nya yang terdahulu, bahwa Dia menjadikan sebagian mereka menjadi pengganti bagi sebagian yang lain, mengutus pemberi peringatan untuk setiap umat, lalu Dia memperhatikan apa yang mereka kerjakan. Barang siapa yang kafir kepada Allah dan kepada apa yang dibawa para rasul-Nya, maka kekafiran itu akibatnya menimpa dirinya, demikian pula dosa dan hukumannya, dan tidak akan dipikul oleh seorang pun.

[2] Padahal hukuman apa yang lebih besar daripada kemurkaan Allah Yang Mahamulia.

[3] Mereka merugikan diri mereka dan amal mereka. Oleh karena itu, orang kafir senantiasa bertambah sengsara dan rugi, serta mendapatkan kehinaan baik di sisi Allah maupun di sisi manusia.

[4] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman melemahkan sesembahan orang-orang musyrik, menerangkan kekurangannya, dan membatalkan syirk mereka dari berbagai sisi.

[5] Yakni wahai Rasul kepada mereka.

[6] Yakni apakah mereka memang berhak disembah dan diminta?

[7] Apakah laut yang mereka ciptakan, atau apakah gunung yang mereka ciptakan, atau apakah hewan yang mereka ciptakan, atau apakah benda mati yang mereka ciptakan? Tentu mereka akan mengakui, bahwa yang menciptakan semua itu adalah Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[8] Tentu mereka akan mengatakan, bahwa sekutu-sekutu mereka itu tidak memiliki peran apa-apa terhadap penciptaan langit apalagi mengaturnya. Jika mereka tidak menciptakan apa-apa dan tidak ikut serta dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam menciptakan makhluk-Nya dan mengaturnya, maka mengapa kamu menyembahnya dan berdoa kepadanya padahal kamu mengakui kelemahannya. Dengan demikian, dalil akal menunjukkan tidak benarnya menyembah mereka dan menunjukkan batilnya. Pada lanjutan ayatnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebutkan tentang dalil naqli (wahyu), bahwa ternyata mereka tidak memiliki dalil naqlinya sebagaimana tidak memiliki dalil ‘aqli (akal).

[9] Yang menyuruh mereka berbuat syirk dan menyembah patung dan berhala.

[10] Yakni keterangan yang membenarkan perbuatan syirk. Ternyata tidak ada, karena sebelum Al Qur’an tidak ada kitab yang turun kepada mereka dan sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak ada yang memberi peringatkan mereka.

[11] Jika seseorang bertanya, “Jika dalil naqli dan dalil ‘aqli menunjukkan batilnya syirk, lalu apa yang membuat kaum musyrik tetap di atas perbuatan syirk, padahal di tengah-tengah mereka ada orang yang berakal, yang cerdas dan pandai? Maka jawabannya tercantum dalam lanjutan ayatnya, yaitu firman-Nya, “Sebenarnya orang-orang zalim itu, sebagian mereka hanya menjanjikan tipuan belaka kepada sebagian yang lain.” Inilah yang mereka lakukan, mereka tidak memiliki hujjah tetapi hanya mendapat pesan dari kawan-kawannya serta penghiasan dari mereka, demikian pula karena orang yang terlambat dari mereka mengikuti orang yang di depan padahal sesat, dan karena angan-angan setan yang menghias indah perbuatan buruk mereka, sehingga tertanamlah dalam hati mereka dan menjadi sifat yang melekat dalam diri mereka, sehingga sulit disingkirkan, dan berat dipisahkan, maka terjadilah apa yang terjadi berupa tetap di atas syirk dan kekafiran serta kebatilan.

[12] Ada yang berpendapat, yaitu menjanjikan bahwa patung-patung itu memberi syafaat.

[13] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya kekuasaan-Nya, sempurnanya rahmat-Nya, dan luasnya santun dan ampunan-Nya, dan bahwa Dia menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, dan bahwa jika keduanya lenyap, maka tidak ada yang dapat yang dapat menahannya kecuali Allah Subhaanahu wa Ta'aala., di samping itu karena kelemahan mereka (makhluk-Nya) baik kemampuan maupun kekuatan untuk menjaganya. Akan tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'aala menetapkan agar langit dan bumi tetap ada sebagaimana disaksikan agar menjadi tempat bagi makhluk-Nya, bisa memberi manfaat dan mengambil pelajaran agar mereka mengetahui sebagian dari besarnya kekuasaan-Nya dan kekuatan kemampuan-Nya sehingga membuat hati mereka membesarkan-Nya dan mengagungkan-Nya, mencintai dan memuliakan-Nya, dan agar mereka mengetahui sempurnanya santun dan ampunan-Nya dengan memberi tangguh orang-orang yang berdosa, tidak segera menyiksa orang-orang yang bermaksiat, padahal jika Dia memerintahkan langit untuk menimpakan bebatuan kepada manusia tentu akan terjadi, dan jika Dia mengizinkan bumi untuk membinasakan manusia, tentu bumi akan menelan mereka, akan tetapi ampunan-Nya begitu luas sehingga mengena mereka, demikian pula santun (kesabaran)-Nya dan kepemurahan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

[14] Yakni kaum musyrik Mekah.

[15] Yakni lebih mendapat petunjuk daripada orang-orang Yahudi, Nasrani dan selainnya. Namun kenyataannya, mereka tidak memenuhi sumpah dan janji ini.

[16] Yakni Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka tidak memperoleh petunjuk, bahkan tidak lebih mendapat petunjuk dari umat-umat yang ada, mereka tetap saja sesat seperti sebelumnya.

[17] Yakni hanya menambah kesesatan saja, kezaliman dan pembangkangan. Sumpah mereka itu bukanlah karena niat yang baik dan mencari yang hak, karena jika seperti itu tentu mereka akan diberi taufik kepadanya, akan tetapi muncul dari sikap sombong terhadap kebenaran dan menghias ucapan mereka dengan tujuan makar dan tipu daya, agar mereka disebut sebagai orang yang berada di atas kebenaran lagi ingin mencarinya, sehingga orang yang tertipu, akan tertipu kepadanya dan orang-orang yang ikut-ikutan berjalan di belakang mereka.

[18] Maksudnya adalah untuk kejahatan dan ujung-ujungnya adalah kejahatan.

[19] Yakni makar jahat mereka kembalinya menimpa mereka, dan Allah telah menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya ucapan dan janji mereka itu, sehingga diketahui bahwa mereka dusta dalam sumpah dan ucapannya. Sehingga jelaslah kehinaan mereka, tampak cacat mereka, dan jelas maksud mereka yang buruk, makar mereka iitu kembalinya kepada mereka, dan Allah mengembalikan tipu daya mereka ke dalam diri mereka. Sehingga tidak ada yang tetinggal selain menunggu kapan azab menimpa mereka, di mana yang demikian merupakan sunnatullah terhadap orang-orang yang terdahulu yang tidak berubah dan berganti, yaitu siapa saja yang berjalan di atas kezaliman, sifat pembangkangan, dan sombong kepada hamba-hamba-Nya bisa saja Allah menurunkan siksa dan mencabut nikmat-Nya. Oleh karena itu, hendaknya mereka berwaspada jika melakukan hal yang dengan sebelum mereka, Dia akan menimpakan azab kepada mereka.

[20] Yang dimaksud dengan sunnah orang-orang yang terdahulu ialah turunnya siksa kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

[21] Sunnatul awwaliin dalam ayat tersebut adalah sunnah Allah dalam bertindak kepada makhluk-Nya, yaitu menimpakan azab karena mendustakan para rasul-Nya.

[22] Yakni tidak akan diganti dengan azab selainnya dan tidak pula berpindah kepada yang lain.

[23] Alllah Subhaanahu wa Ta'aala mendorong untuk mengadakan perjalanan di bumi dengan hati dan badannya untuk mengambil pelajaran, tidak sekedar melihat dengan lalai, dan agar mereka melihat akibat orang-orang sebelum mereka yang mendustakan para rasul, di mana mereka lebih banyak harta dan anak-anaknya serta lebih memiliki kekuatan. Mereka memakmurkan bumi melebih yang lain, namun ketika azab datang, kekuatan, harta dan anak-anak tidaklah bermanfaat apa-apa agar dapat menghindari azab itu, dan berlaku kepada mereka kekuasaan Allah dan kehendak-Nya.

[24] Tetapi Allah berkuasa membinasakan mereka karena mendustakan rasul-Nya.

[25] Yakni karena sempurnanya ilmu dan kekuasaan-Nya.

[26] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sempurnanya santun(kesabaran)-Nya, benar-benar memberi tangguh, dan pemberian tangguh kepada para pelaku dosa dan maksiat.

[27] Yakni hukuman itu mengena semuanya sampai hewan yang tidak terkena beban..

[28] Yakni hari Kiamat, Dia menangguhkan mereka namun tidak membiarkan.



[29] Maka Dia akan membalas mereka sesuai ilmu-Nya dengan memberi pahala kepada orang-orang mukmin dan memberi hukuman kepada orang-orang kafir.
Read More...

Tafsir Fathir Ayat 29-38

Ayat 29-35: Mengambil manfaat dari Al Qur’an adalah dengan mengamalkannya, penjelasan tentang orang-orang yang mewarisi Al Qur’an, perbedaan tingkatan mereka, dan penjelasan tentang kenikmatan surga.

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ (٣٠) وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ (٣١) ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ (٣٢) جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ (٣٣) وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ (٣٤) الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ (٣٥)

Terjemah Surat Fathir Ayat 29-35

29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah[1] dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan[2], mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi[3],

30. [4]Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka[5] dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[6].

31. [7]Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) yaitu Kitab (Al Quran) itulah yang benar, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya[8]. Sungguh, Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya[9].

32. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami[10], lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri[11], ada yang pertengahan[12] dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[13] dengan izin Allah[14]. Yang demikian itu adalah karunia yang besar[15].

33. [16](Mereka akan mendapat) surga 'Adn[17], mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan gelang-gelang dari emas dan mutiara[18], dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera[19].

34. [20]Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami[21]. Sungguh, Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun[22] lagi Maha Mensyukuri[23].

35. Yang dengan karunia-Nya[24] menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga)[25]; di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu[26].”





Ayat 36-38: Gambaran keadaan orang-orang kafir di neraka dan azab yang mereka peroleh.
Read More...

Tafsir Fathir Ayat 19-28

Ayat 19-28: Contoh-contoh yang menunjukkan tidak samanya antara keimanan dan kekafiran sebagaimana tidak sama antara cahaya dengan kegelapan, bukti yang menunjukkan keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan penjelasan tentang keutamaan para ulama yang bertakwa.

وَمَا يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ (١٩) وَلا الظُّلُمَاتُ وَلا النُّورُ (٢٠)وَلا الظِّلُّ وَلا الْحَرُورُ (٢١) وَمَا يَسْتَوِي الأحْيَاءُ وَلا الأمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ (٢٢) إِنْ أَنْتَ إِلا نَذِيرٌ (٢٣) إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلا خَلا فِيهَا نَذِيرٌ (٢٤) وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَبِالزُّبُرِ وَبِالْكِتَابِ الْمُنِيرِ (٢٥) ثُمَّ أَخَذْتُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ (٢٦) أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ (٢٧) وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (٢٨)

Terjemah Surat Fathir Ayat 19-28

19. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat[1].

20. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya[2],

21. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas[3],

22. [4]Dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati[5]. Sungguh, Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki[6] dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar[7].

23. Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.

24. Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran[8] sebagai pembawa berita[9] gembira dan sebagai pemberi peringatan[10]. Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan[11].

25. Dan jika mereka mendustakanmu[12], maka sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (rasul-rasul); ketika rasul-rasulnya datang dengan membawa keterangan yang nyata (mukjizat), zubur[13], dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna[14].



26. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir[15]; maka (lihatlah) bagaimana akibat kemurkaan-Ku[16].

27. [17]Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu dengan air itu Kami hasilkan buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis[18] putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.

28. Dan demikian (pula) di antara manusia, hewan-hewan melata dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama[19]. Sungguh, Allah Mahaperkasa[20] lagi Maha Pengampun[21].


[1] Ada yang menafsirkan, tidak sama antara orang mukmin dengan orang kafir.

[2] Ada yang menafsirkan, tidak sama kekafiran dengan keimanan.

[3] Ada yang menafsirkan, tidak sama antara surga dengan neraka.

Oleh karena yang disebutkan itu tidak sama dan semua manusia mengakuinya, maka demikian pula tidak sama hal yang bertentangan secara maknawi, sehingga tidak sama antara orang mukmin dengan orang kafir, orang yang mendapatkan petunjuk dengan orang yang tersesat, orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, penghuni surga dengan penghuni neraka, orang yang hidup hatinya dengan orang yang mati hatinya, antara keduanya jelas terdapat perbedaan. Apabila kita telah mengetahui perbedaan antara keduanya, dan bahwa yang satu lebih baik daripada yang lain, maka hendaknya kita mengutamakan yang lebih baik.

[4] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan, bahwa tidaklah sama sesuatu yang berlawanan menurut kebijaksanaan Allah dan menurut apa yang Dia tanamkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya berupa fitrah yang selamat.

[5] Orang yang hidup adalah orang mukmin, sedangkan orang yang mati adalah orang kafir.

[6] Maksudnya, Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan memberi kesanggupan untuk mendengarkan dan menerima keterangan-keterangan yang disampaikan.

[7] Maksudnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dapat memberi petunjuk kepada orang-orang musyrik yang telah mati hatinya, sebagaimana panggilan seseorang kepada penghuni kubur tidak ada faedahnya, demikian pula seruan yang ditujukan kepada orang byang berpaling lagi membangkang, akan tetapi kewajibanmu hanyalah memberi peringatan dan menyampaikan, baik mereka menerima atau tidak sebagaimana diterangkan dalam lanjutan ayatnya.

[8] Yakni dengan membawa petunjuk karena manusia membutuhkannya, dan lagi ketika itu belum ada rasul, pengetahuan agama hilang dan manusia sangat butuh sekali kepada petunjuk, maka Allah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rahmat kepada alam semesta. Allah mengutus Beliau dengan membawa agama yang lurus dan jalan yang lurus, ia merupakan kebenaran dan Allah menurunkan kepada Beliau Al Qur’an juga sebagai kebenaran.

[9] Kepada orang yang mau memenuhi seruan (beriman) dengan pahala segera atau ditunda.

[10] Kepada orang yang tidak mau memenuhi seruan (kafir) dengan azab Allah segera atau ditunda..

[11] Yakni seorang nabi yang memberi peringatan untuk menegakkan hujjah. Oleh karena itu, Beliau bukanlah seorang rasul yang baru.

[12] Wahai rasul, maka engkau bukanlah rasul pertama yang didustakan.

[13] Zubur ialah lembaran-lembaran yang berisi wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang isinya mengandung hukum dan hikmah.

[14] Yakni yang bersinar beritanya dan adil hukumnya seperti Taurat dan Injil. Oleh karena itu, pendustaan mereka kepada para rasul bukanlah karena ketidakjelasan atau karena kurang pada apa yang dibawa rasul, bahkan disebabkan kezaliman dan pembangkangan mereka

[15] dengan berbagai hukuman.

[16] Yakni akibat pengingkaran-Ku kepada mereka dengan menghukum dan membinasakan mereka. Oleh karena itu, janganlah kamu mendustakan rasul yang mulia ini (Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), sehingga nantinya kamu akan ditimpa seperti yang menimpa mereka, berupa azab yang pedih dan memperoleh kehinaan.

[17] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan ciptaan-Nya yang beraneka macam di mana asalnya adalah satu dan materinya juga satu, namun terjadi perbedaan yang mencolok sebagaimana yang kita saksikan, untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya betapa sempurnanya kekuasaan-Nya dan betapa indah kebijaksanaan-Nya. Contoh dalam hal ini adalah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan air dari langit, lalu Dia mengeluarkan daripadanya tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang beraneka macam sebagaimana yang kita saksikan, padahal airnya satu macam dan tanahnya juga satu macam. Termasuk pula gunung-gunung yang Allah jadikan sebagai pasak di bumi, kita dapat melihat gunung-gunung yang yang berbeda-beda, bahkan satu gunung saja ada beberapa warna pada jalannya; ada jalan yang berwarna putih, ada yang berwarna kuning dan merah, bahkan ada yang berwarna hitam pekat. Termasuk pula manusia, hewan melata dan hewan ternak sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya, yakni pada mereka juga terdapat keanekaragaman warna, sifat, suara, dan rupa sebagaimana yang kita lihat, padahal semuanya dari asal dan materi yang satu. Perbedaan itu merupakan dalil ‘aqli (akal) yang menunjukkan kepada kehendak Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengkhususkan masing-masingnya dengan warna tertentu dan sifat tertentu. Demikian pula menunjukkan qudrat (kekuasaan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengadakan hal itu, dan menunjukkan hikmah dan rahmat-Nya, di mana adanya perbedaan itu terdapat berbagai maslahat dan manfaat, dapat mengenal jalan dan mengenal antara yang satu dengan yang lain, berbeda jika sama tentu sulit dikenali. Yang demikian juga menunjukkan luasnya ilmu Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa Dia akan membangkitkan manusia yang berada dalam kubur, akan tetapi orang yang lalai melihat hal itu dengan pandangan yang lalai, tidak membuatnya sadar. Oleh karena itulah hanya orang-orang yang takut kepada Allah-lah yang dapat mengambil manfaat darinya, dan dengan pikirannya yang lurus dapat membuatnya mengetahui hikmahnya sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[18] Judad di ayat tersebut bisa diartikan jalan di pegunungan.

[19] Oleh karena itu, orang yang lebih mengenal Allah, maka akan bertambah rasa takutnya, di mana hal itu akan membuatnya menahan diri dari maksiat dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Zat yang dia takuti. Ayat ini menunjukkan keutamaan ilmu, karena ilmu menambah seseorang takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepada Allah itulah orang-orang yang mendapatkan keistimewaan dari-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (terj. Al Bayyinah: 8)

[20] Yakni Mahasempuna keperkasaan-Nya, di mana dengan keperkasaan-Nya Dia menciptakan makhluk yang beraneka macam itu.

[21] Dosa-dosa hamba-hamba-Nya yang bertobat.
Read More...

Tafsir Fathir Ayat 9-18

Ayat 9-14: Sebagian fenomena kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam mengirimkan angin, menciptakan manusia, menciptakan air yang segar dan asin dan menciptakan malam dan siang.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَى بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا كَذَلِكَ النُّشُورُ (٩) مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (١٠)وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ أَزْوَاجًا وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلا تَضَعُ إِلا بِعِلْمِهِ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ إِلا فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (١١) وَمَا يَسْتَوِي الْبَحْرَانِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ سَائِغٌ شَرَابُهُ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَمِنْ كُلٍّ تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ فِيهِ مَوَاخِرَ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٢) يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ (١٣) إِنْ تَدْعُوهُمْ لا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ (١٤)

Terjemah Surat Fathir Ayat 9-14

9. [1]Dan Allahlah yang mengirimkan angin; lalu (angin itu) menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (tandus)[2] lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah mati (kering)[3]. Seperti itulah kebangkitan itu[4].

10. Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah[5]. kepada-Nyalah akan naik[6] perkataan-perkataan yang baik[7], dan amal saleh[8] Dia akan mengangkatnya[9]. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan[10] mereka akan mendapat azab yang sangat keras[11], dan rencana jahat mereka akan hancur[12].

11. Dan Allah menciptakan kamu dari tanah[13] kemudian dari air mani[14], kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan)[15]. Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh)[16]. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah[17].

12. [18]Dan tidak sama (antara) dua lautan; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari (masing-masing laut) itu kamu dapat memakan daging yang segar[19] dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai[20], dan di sana kamu melihat kapal-kapal berlayar membelah laut agar kamu dapat mencari karunia-Nya[21] dan agar kamu bersyukur.

13. [22]Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan[23]. [24]Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah[25] tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari[26].

14. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu[27], dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu[28]. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu[29] dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu[30] seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Mahateliti[31].



Ayat 15-18: Allah Subhaanahu wa Ta'aala Mahakaya tidak membutuhkan makhluk-Nya, sedangkan semua makhluk butuh kepada-Nya, dan bahwa setiap manusia diminta pertanggung jawaban terhadap amalnya masing-masing.



يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (١٥) إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (١٦) وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (١٧) وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى إِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَمَنْ تَزَكَّى فَإِنَّمَا يَتَزَكَّى لِنَفْسِهِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (١٨)

Terjemah Surat Fathir Ayat 15-18

15. [32]Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji[33].

16. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu)[34].

17. Dan yang demikian itu tidak sulit bagi Allah.

18. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[35]. Dan jika seseorang dibebani berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya[36]. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya[37] dan mereka yang mendirikan shalat[38]. Dan barang siapa yang menyucikan dirinya[39], sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allah-lah tempat kembali[40].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang sempurnanya kuasa-Nya dan luasnya kepemurahan-Nya.

[2] Lalu Allah turunkan hujan kepadanya.

[3] Maka bumi menjadi hidup dan makhluk hidup memperoleh rezeki.

[4] Yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala apabila hendak membangkitkan, maka Dia menurunkan hujan dari bawah ‘Arsy yang mengena kepada bumi secara merata, lalu jasad-jasad itu tumbuh dalam kuburnya sebagaimana tumbuhnya sebutir biji di bumi, kemudian mereka datang menghadap Allah agar Dia memberikan keputusan kepada mereka dengan keputusan-Nya yang adil.

[5] Maksudnya adalah wahai orang yang menginginkan kemuliaan, carilah kemuliaan itu dari yang memilikinya, dan yang memilikinya adalah Allah, dan hal itu tidak mungkin dicapai kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.

[6] Yakni diangkat kepada Allah, dihadapkan kepada-Nya dan akan dipuji Allah pelakunya di hadapan makhluk yang berada di dekat-Nya.

[7] Seperti membaca Al Qur’an, ucapan tasbih, tahmid, tahlil (Laailaahaillallah), dan semua ucapan yang baik lainnya.

[8] Baik amal hati, lisan maupun anggota badan.

[9] Perkataan yang baik dan amal salehnya itu dinaikkan oleh Allah Ta’ala untuk diterima dan diberi-Nya pahala. Adapula yang berpendapat, bahwa amal saleh akan mengangkat perkataan yang baik sesuai amal saleh pada seorang hamba, amal itulah yang mengangkatnya. Apabila ia tidak memiliki amal saleh, maka tidak akan diangkat ucapannya kepada Allah Ta’ala. Amal itulah yang diangkat kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan mengangkat pelakunya dan memuliakannya. Adapun amal buruk, maka kebalikannya, tidak menambahkan selain kehinaan dan kerendahan.

[10] Seperti orang-orang Quraisy yang berkumpul di Darunnadwah untuk menangkap dan memenjarakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, membunuh Beliau atau mengusir Beliau.

[11] Mereka dihinakan sehina-hinanya.

[12] Yakni akan binasa dan tidak membuahkan hasil apa-apa.

[13] Yaitu dengan menciptakan nenek moyangmu Adam ‘alaihis salam dari tanah.

[14] Yakni keturunannya dari air mani.

[15] Dia senantiasa memindahkan keadaan kamu dari periode yang satu kepada periode yang selanjutnya sampai kamu berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dan menikah, lalu kamu mempunyai anak dan keturunan. Menikah meskipun termasuk sebab untuk menghasilkan keturunan, namun tetap terikat dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya serta ilmu-Nya. Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan, melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Demikian pula periode yang dilalui manusia juga dengan sepengetahuan-Nya dan qadha’-Nya.

[16] Yakni dengan sepengetahuan-Nya, atau maksudnya tidaklah berkurang umur seseorang yang hendak sampai kepada akhirnya kalau bukan karena dia mengerjakan sebab-sebab berkurangnya umur seperti zina, durhaka kepada kedua orang tua, memutuskan tali silaturrahim dan perbuatan lainnya yang termasuk sebab pendeknya umur. Artinya, panjang dan pendeknya umur dengan adanya sebab dan tanpa sebab itu, semuanya dengan sepengetahuan Allah dan hal itu sudah dicatat dalam Lauh Mahfuzh.

[17] Oleh karena itu, Tuhan yang mengadakan manusia dan merubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain sampai keadaan yang telah ditentukan baginya, tentu lebih mampu mengadakannya kembali, bahkan yang demikian mudah bagi-Nya. Demikian pula peliputan ilmu-Nya kepada semua bagian alam, baik alam bagian bawah maupun alam bagian atas, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi dalam dada maupun janin yang tersembunyi dalam perut, bertambahnya amal dan berkurangnya dan dicatatnya semua itu dalam sebuah kitab, juga sama sebagai dalil bahwa Dia mampu menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Dan lagi Dia juga yang menghidupkan bumi setelah matinya.

[18] Ayat ini menerangkan tentang kekuasaan Allah, hikmah-Nya dan rahmat-Nya, bahwa Dia menjadikan dua buah laut (satu laut dan satu lagi sungai) untuk maslahat penduduk bumi, dan bahwa keduanya tidaklah sama, karena maslahat menghendaki agar sungai-sungai itu tawar dan segar lagi sedap diminum sehingga dapat diminum dan dapat dipakai untuk menyirami tanaman, sedangkan laut terasa asin lagi pahit agar tidak merusak udara yang meliputi bumi dan agar keadaan airnya tidak berubah, karena air laut itu diam tidak mengalir, maka dengan dijadikan asin menghalanginya untuk berubah dan agar hewan yang hidup di sana (ikannya) lebih indah dan lebih nikmat.

[19] Yakni ikan yang mudah dijaring di laut.

[20] Seperti mutiara, marjan dan perhiasan lainnya yang diperoleh dari dalam lautan. Ini merupakan maslahat yang sangat besar bagi hamba. Termasuk maslahat di laut adalah Allah menundukan laut agar dapat membawa kapal, di mana kita melihat kapal membelah lautan, pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kapal itu membawa penumpangnya, barang-barang berat dan perdagangan mereka. Sehingga karena karunia Allah dan ihsan-Nya itu tercapailah banyak maslahat.

[21] Dengan berdagang.

[22] Termasuk pula ketika Allah memasukkan malam ke dalam siang dan siang ke dalam malam, setiap kali datang yang satu, maka yang satu lagi pergi, terkadang yang satu bertambah lamanya, sedangkan yang lain berkurang, dengan begitu tegaklah maslahat hamba baik untuk fisik mereka, hewan mereka maupun tanaman mereka.

[23] Masing-masing beredar di tempat peredarannya sesuai yang Allah kehendaki, maka apabila ajal telah tiba, dunia telah dekat dengan kehancuran, maka keduanya berhenti berjalan, dan kekuatannya tidak berfungsi lagi, cahaya bulan akan hilang, matahari dilipat, dan bintang-bintang bertaburan..

[24] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang makhluk-makhluk yang besar ini dan pelajaran yang ada di dalamnya yang menunjukkan sempurnanya Allah dan menunjukkan ihsan-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, milik-Nyalah segala kerajaan.” Dia sendiri yang menciptakan makhluk-makhluk besar itu dan menundukkannya, Dialah Allah Tuhan yang berhak disembah, yang memiliki segala kerajaan.

[25] Seperti patung dan berhala.

[26] Yakni tidak memiliki apa-apa, sedikit atau banyak, dan tidak memiliki sedikit pun meskipun setipis kulit ari (kulit tipis pada buah).

[27] Karena yang mereka seru antara benda mati, orang-orang yang telah mati atau para malaikat yang sibuk beribadah dan menaati Tuhan mereka.

[28] Karena mereka tidak memiliki apa-apa dan tidak ridha dengan penyembahan orang yang menyembah mereka.

[29] Mereka akan berlepas diri darimu dan dari penyembahanmu kepada mereka.

[30] Tentang keadaan dunia dan akhirat.

[31] Yakni tidak ada satu pun yang memberi keterangan kepadamu yang lebih benar daripada keterangan yang diberikan Allah. Oleh karena itu, yakinilah berita yang disampaikan-Nya dan jangan meragukannya.

Kandungan ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang berhak disembah dan bahwa menyembah selain-Nya adalah batil tidak memberikan faedah apa-apa bagi yang menyembahnya.

[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada semua manusia dan memberitahukan keadaan dan sifat mereka, bahwa mereka butuh kepada Allah dalam semua keadaan. Mereka butuh diciptakan, mereka butuh diberikan kemampuan untuk melakukan sesuatu, mereka butuh diberi-Nya rezeki dan kenikmatan, mereka butuh dihindarkan dari bencana, mereka butuh diurus dan diatur-Nya, mereka butuh beribadah kepada-Nya, mereka butuh diajarkan-Nya sesuatu yang belum mereka ketahui, dan mereka butuh segalanya kepada Allah, baik mereka sadari atau tidak. Akan tetapi, orang yang diberi taufik di antara mereka seantiasa menyadari kebutuhannya baik yang terkait dengan urusan dunia maupun agama dan merendakan diri kepada-Nya serta meminta-Nya agar tidak menyerahkan urusan kepada dirinya walau sekejap pun serta membantunya dalam semua urusan, maka orang inilah yang lebih berhak mendapatkan pertolongan sempurna dari Allah Tuhannya, di mana Dia lebih sayang kepadanya daripada sayangnya seorang ibu kepada anaknya.

[33] Dia Mahakaya secara sempurna dari berbagai sisi, sehingga Dia tidak membutuhkan seperti halnya makhluk-Nya membutuhkan dan tidak membutuhkan apa-apa dari alam semesta. Yang demikian karena kesempurnaan sifat-Nya, di mana semua sifat-Nya adalah sifat sempurna dan agung. Di antara Mahakayanya Dia adalah, Dia memberikan kekayaan kepada makhluk-Nya di dunia dan akhirat.

Dia juga Maha Terpuji, pada zat-Nya, nama-Nya karena semuanya indah, dan sifat-Nya karena semua sifat-Nya Tinggi. Di samping itu, perbuatan-perbuatan-Nya berjalan di antara memberi karunia dan ihsan, berbuat adil, hikmah (bijaksana), dan rahmat (sayang). Demikian pula pada perintah dan larangan-Nya yang semuanya mengandung keadilan, kebijaksanaan dan rahmat. Dia Maha Terpuji karena apa yang ada pada-Nya dan karena pemberian dari-Nya. Dia Maha Terpuji di tengah Mahakaya-Nya.

[34] Maksudnya bisa juga, bahwa jika Dia menghendaki, Dia dapat membinasakan kamu wahai manusia dan menggantimu dengan manusia yang baru yang taat kepada Allah. Sehingga ayat ini merupakan ancaman kepada manusia. Bisa juga maksudnya adalah menetapkan adanya kebangkitan, dan bahwa kehendak Allah berlaku dalam segala sesuatu, demikian pula Dia mampu menghidupkan kembali manusia setelah mati, akan tetapi waktunya telah ditetapkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, tidak maju dan tidak mundur. Makna ini ditunjukkan oleh ayat 18.

[35] Maksudnya, masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.

[36] Keadaan di akhirat tidaklah seperti di dunia, di mana beban yang dipikul seseorang dapat dibantu dipikul oleh yang lain.

[37] Di antara ahli tafsir ada yang menafsirkan bil ghaib dalam ayat ini ialah orang-orang yang takut kepada Allah di waktu rahasia atau terang-terangan. Rasa takut dari seorang hamba membuatnya beramal agar tidak disiksa karena menyia-nyiakan yang diperintahkan serta menghindarkan diri dari mengerjakan sesuatu yang mendatangkan azab.

[38] Mereka inilah yang mau menerima peringatan dan memperoleh manfaat darinya. Maksud mendirikan shalat adalah melaksanakannya dengan batasan-batasannya, syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta melaksanakan kewajibannya dan melakukan kekhusyuan di dalamnya. Shalat yang dilakukannya itu dapat mengajaknya kepada kebaikan dan mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

[39] Dari berbagai aib, seperti riya’, sombong, dusta, menipu, membuat makar, melakukan kemunafikan dan akhlak tercela lainnya, serta menghiasi dirinya dengan akhlak mulia seperti ikhlas, tawadhu’, jujur, bersikap lembut, dan memberikan ketulusan kepada manusia (tidak menipu), selamatnya dada dari dengki dan dendam, serta akhlak buruk lainnya, maka pembersihan dirinya itu manfaatnya untuk dirinya sendiri sebagaimana dierangkan dalam lanjutan ayatnya.

[40] Dia akan menghisab amal yang dikerjakan makhluk-Nya dan akan memberikan balasan. Dia sama sekali tidak akan meninggalkan amal yang besar maupun yang kecil.
Read More...

Tafsir Fathir Ayat 1-8

Surah Fathir (Pencipta)

Surah ke-35. 45 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-4: Beberapa ayat ini memulai dengan memuji Allah Subhaanahu wa Ta'aala atas nikmat-nikmat-Nya dalam menciptakan langit, bumi dan para malaikat, serta penjelasan terhadap karunia-Nya kepada manusia.

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ جَاعِلِ الْمَلائِكَةِ رُسُلا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (١) مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢) يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ (٣) وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (٤)

Tafsir Surat Fathir Ayat 1-4

1. Segala puji bagi Allah[1] Pencipta langit dan bumi[2], yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan)[3] [4]yang mempunyai sayap masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki[5]. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

2. [6]Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup untuk melepaskannya setelah itu[7]. Dan Dialah Yang Mahaperkasa[8] lagi Mahabijaksana[9].

3. [10]Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu[11]. [12]Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? [13]Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)[14]?

4. Dan jika mereka mendustakan engkau (setelah engkau beri peringatan)[15], maka sungguh, rasul-rasul sebelum engkau telah didustakan pula[16]. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan[17].



Ayat 5-8: Peringatan agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan agar tidak mengikuti setan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (٥) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ (٦) الَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ (٧) أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٨)

Tafsir Surat Fathir Ayat 5-8



5. Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu[18] benar[19]
Read More...

Referensi Tafsir

As Sa’diy, Abdurrahman bin Nashir (1423 H/2002 M). Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar Risalah. As Sa’diy, Abdurrahman bin Nashir. Taisirul Lathiifil Mannaan fii Khulashah Tafsiril Ahkaam. Maktabah Syamilah. Al Mahalli, J. dan As Suyuthi, J. Tafsir Al Jalaalain. www.islamspirit.com. Al Baghawi. Tafsir Al Baghawi. www.islamspirit.com. Al Albani, Muhammad Nashiruddin (1420 H/2000 M). Al Jaami’ush Shaghiir wa ziyaadaatuh. Markaz Nurul Islam li Abhaatsil Qur’an was Sunnah. Al Munajjid, Muhammad bin Shalih. 100 Faidah Min Suurah Yuusuf. Takhrij: Abu Yusuf Hani Faruq. As Suyuthi, Jalaaludin. Asraaru Tartiibil Qur’an. www.almeshkat.net. Al Waadi’iy, Muqbil bin Hadiy (1425 H/2004 M). Ash Shahihul Musnad min Asbaabin Nuzuul (Cet. Ke 2). Shan’a: Maktabah Shan’aa Al Atsariyyah. Depag RI, Al Qur'anul Kariim dan terjemahnya. Bandung: Gema Risalah Pres. Depag RI, Al Qur'anul Kariim dan terjemahnya. Bandung: PT. Syamil Cipta Media. Ibnu ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih (1424 H/2003 M). Tafsir Juz 'Amma. Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah. Ibnu Katsir, Isma’il bin Katsir (1421 H/2000 M). Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziib Tafsiir Ibni Katsir (cet. Ke-2). Riyadh: Daarus Salaam lin nasyr wat tauzi’. Tajudin As, Ahmad dan Al Andalasi, Rukmito Sya’roni (1992 M). Pusaka Islam Kewajiban Yang Diabaikan. Sukabumi: Badan Wakaf Ulil Absor. Anshori Taslim, Lc. Belajar Mudah Ilmu Waris. Jakarta: Hanif Press. Al Mubaarakfuuriy, Shafiyyurrahman (1424 H/2003 M). Ar Rahiiqul Makhtum (cet. Ke-1). Beirut: Daarul Fikri. ________,Tafsir Al Muyassar Tafsir Al Qur'an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an” - Al Ustadz Abu Yahya Marwan bin Musa yang merupakan staf ahli kurikulum dan pengajar Ibnu Hajar Boarding School

Video Gallery

Good Yoghurt

Good Yoghurt