Tafsir As Sajdah Ayat 15-30

Ayat 15-22: Sifat orang-orang mukmin dan balasan untuk mereka, sifat orang-orang fasik dan balasan untuk mereka, serta perbedaan antara kedua orang itu.

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ (١٥) تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (١٦) فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٧)أَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًا لا يَسْتَوُونَ (١٨) أَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ جَنَّاتُ الْمَأْوَى نُزُلا بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٩) وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا فَمَأْوَاهُمُ النَّارُ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ (٢٠) وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٢١) وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ (٢٢)

Terjemah Surat As Sajdah Ayat 15-22

15. [1]Orang-orang yang beriman[2] dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami)[3], mereka menyungkur sujud[4] dan bertasbih serta memuji Tuhannya[5], dan mereka tidak menyombongkan diri[6].

16. [7]Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[8], mereka berdoa kepada Tuhannya[9] dengan rasa takut dan penuh harap[10], dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka[11].

17. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati[12] sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan[13].

18. [14]Maka apakah orang yang beriman[15] seperti orang yang fasik (kafir)[16]? Mereka tidak sama[17].

19. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh[18], maka mereka akan mendapat surga-surga tempat kediaman[19], sebagai pahala atas apa yang telah mereka kerjakan[20].

20. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat kediaman mereka adalah neraka[21]. Setiap kali mereka hendak keluar darinya[22], mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, "Rasakanlah azab neraka yang dahulu kamu dustakan[23]."

21. Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia)[24] sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka[25] kembali (ke jalan yang benar)[26].

22. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa[27].

Ayat 23-25: Perintah untuk menerima Al Qur’an dengan tidak ragu-ragu, perintah untuk bersabar dan mengambil pelajaran dari perjalanan Nabi Musa ‘alaihis salam, dan bahwa imamah (kepemimpinan) dalam agama hanya diraih dengan sabar dan yakin.

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ فَلا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (٢٣) وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ (٢٤) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (٢٥)

Terjemah Surat As Sajdah Ayat 23-25

23. [28]Dan sungguh, telah Kami anugerahkan kitab (Taurat) kepada Musa, maka janganlah engkau (Muhammad) ragu-ragu menerimanya (Al-Quran) dan Kami jadikan kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil[29].

24. Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin[30] yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat kami[31].

25. [32]Sungguh Tuhanmu, Dia yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan padanya.

Ayat 26-30: Peringatan kepada kaum musyrik, bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam menghidupkan bumi setelah matinya dan perintah untuk bersabar menunggu kebinasaan orang-orang zalim.

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ أَفَلا يَسْمَعُونَ (٢٦) أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَسُوقُ الْمَاءَ إِلَى الأرْضِ الْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَامُهُمْ وَأَنْفُسُهُمْ أَفَلا يُبْصِرُونَ (٢٧) وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْفَتْحُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٢٨) قُلْ يَوْمَ الْفَتْحِ لا يَنْفَعُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِيمَانُهُمْ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ (٢٩) فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَانْتَظِرْ إِنَّهُمْ مُنْتَظِرُونَ (٣٠)

Terjemah Surat As Sajdah Ayat 26-30

26. Dan tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka[33], betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan[34], sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu[35]. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)[36]. Apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)[37]?

27. Dan tidakkah mereka memperhatikan[38], bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan (dengan air hujan itu) tanam-tanaman sehingga hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka mengapa mereka tidak memperhatikan[39]?

28. Dan mereka[40] bertanya[41], "Kapankah kemenangan itu (datang) jika engkau orang yang benar?"

29. Katakanlah, "Pada hari kemenangan[42] itu, tidak berguna lagi bagi orang-orang kafir[43], keimanan mereka dan mereka tidak diberi penangguhan[44]."

30. Maka berpalinglah engkau dari mereka[45] dan tunggulah[46], sesungguhnya mereka (juga) menunggu[47].

KANDUNGAN AYAT

[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat-Nya dan azab yang telah Dia siapkan untuk mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya dan menyifati keadaan mereka, serta pahala yang Dia siapkan untuk mereka.

[2] Yang hakiki.

[3] Yakni dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al Qur’an, disampaikan nasihat oleh para rasul Allah, diajak berpikir dan merenungi, mereka mau mendengarnya, sehingga mereka menerima dan mengikutinya.

[4] Maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk dan tunduk merendahkan diri. Disunahkan mengerjakan sujud tilawah apabila membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang seperti ini.

[5] Yakni mengucapkan “Subhaanallahi wa bihamdih.”

[6] Baik dengan hati maupun dengan badan. Oleh karena itu, mereka tawadhu’ kepadanya, menerimanya, dan menghadapinya dengan sikap lapang dada dan menerima, dan dengannya mereka dapat mencapai keridhaan Allah dan terbimbing ke jalan yang lurus.

[7] Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas bin Malik, bahwa ayat ini, ”Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,” turun berkenaan dengan penantian mereka terhadap shalat yang biasa disebut ‘atamah (shalat Isya).” Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih gharib, kami tidak mengetahui kecuali dari jalan ini.” Ibnu Jarir juga menyebutkannya di juz 12 hal. 100, Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, “Sanadnya jayyid.”

[8] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengerjakan shalat Isya atau shalat malam (tahajjud) bermunajat kepada Allah, yang sesungguhnya lebih nikmat dan lebih dicintai mereka.

[9] Untuk meraih maslahat agama maupun dunia, dan terhindar dari bahaya.

[10] Mereka menggabung kedua sifat itu, mereka takut amal mereka tidak diterima, dan berharap sekali agar diterima, mereka takut kepada azab Allah dan berharap sekali pahala-Nya.

# Wajib dilakukan oleh seorang Muslim adalah menggabungkan antar khauf dan raja’. Keduanya harus berimbang.
[11] Tidak disebukan batasan infak dan orang yang diberi infak untuk menunjukkan keumuman, oleh karenanya masuk ke dalamnya infak yang wajib seperti zakat, kaffarat, menafkahi istri dan kerabat dan berinfak pada jalur-jalur kebaikan. Berinfak dan berbuat ihsan dengan harta adalah baik secara mutlak, akan tetapi pahala tergantung niat dan manfaat yang dihasilkan. Inilah amal orang-orang yang beriman. Adapun balasannya adalah seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[12] Berupa kebaikan yang banyak, kenikmatan yang sempurna, kegembiraan, kelezatan sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam hadits Qudsi:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas di hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

[13] Sebagaimana mereka shalat di malam hari dan berdoa, serta menyembunyikan amal, maka Allah membalas mereka dengan pahala besar yang disembunyikan sebagai balasan terhadap amal yang mereka kerjakan.

[14] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan kepada akal apa yang terpendam di dalamnya, yaitu berbedanya orang mukmin dengan orang kafir.

[15] Yang mengisi hatinya dengan keimanan, anggota badannya tunduk kepada syariatnya, imannya menghendaki adanya pengaruh dan konsekwensi, yaitu meninggalkan kemurkaan Allah yang keberadaannya merugikan keimanan.

[16] Yang mengosongkan hatinya dari keimanan, di dalamnya tidak terdapat pendorong dari sisi agama, sehingga anggota badannya segera mengerjakan kebodohan dan kezaliman, seperti dosa dan maksiat, dan keluar dengan kefasikannya dari ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Apakah orang ini sama dengan orang mukmin?

[17] Baik secara akal maupun syara’, sebagaimana tidak sama antara malam dengan siang, cahaya dengan kegelapan.

[18] Yang wajib maupun yang sunat.

[19] Yakni surga-surga yang merupakan tempat kelezatan, ladang kebaikan, tempat kesenangan, menyenangkan hati, jiwa maupun ruh, tempat yang kekal, berada di dekat Tuhan Yang Maha Penguasa, bersenang-senang karena dekat dengan-Nya, karena melihat wajah-Nya dan mendengarkan ucapan-Nya.

[20] Amal yang Allah karuniakan kepada mereka, itulah yang membuat mereka sampai ke tempat-tempat yang tinggi dan indah itu, yang tidak mungkin diraih dengan pengorbanan harta, pembantu dan anak, bahkan tidak juga dengan jiwa dan ruh, selain dengan iman dan amal saleh.

[21] Di dalamnya terdapat kesengsaraan dan siksa, dan tidak akan diringankan meskipun sesaat siksa yang menimpa mereka.

[22] Karena azabnya yang begitu dahsyat.

[23] Inilah azab yang lebih besar yang akan mereka hadapi setelah sebelumnya menerima azab yang dekat (di dunia), seperti dibunuh, ditawan, dan sebagainya, dan ketika mati, di mana para malaikat mencabut nyawa mereka dengan keras, serta disempurnakan azab yang dekat ini di alam barzakh, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[24] Seperti dibunuh atau ditawan, kemarau panjang atau penyakit, saat dicabut nyawa dan ketika di alam barzakh. Ayat ini di antara dalil adanya azab kubur

[25] Yang masih hidup di antara mereka.

[26] Dengan beriman.

[27] Yakni tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat Tuhannya, yang telah disampaikan kepadanya oleh Tuhannya, padahal Tuhannya ingin mendidiknya, menyempurnakan nikmat-Nya kepadanya melalui tangan rasul-Nya. Ayat-ayat-Nya memerintahkan dan mengingatkannya terhadap hal yang bermaslahat baginya baik bagi agamanya maupun dunianya, melarangnya terhadap hal yang merugikan agama dan dunianya yang seharusnya disikapi dengan beriman dan menerima, tunduk dan bersyukur, namun orang ini malah membalasnya dengan sikap yang sebaliknya, ia tidak beriman dan tidak mengikutinya, bahkan berpaling dan membelakangi. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.”

[28] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan ayat-ayat-Nya, yaitu Al Qur’an untuk memperingatkan hamba-hamba-Nya, Dia menyebutkan, bahwa peringatan dengan kitab dan dengan pengiriman rasul bukanlah hal yang baru, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga telah menurunkan kitab dan mengirim rasul, seperti yang Dia turunkan kepada Musa, yaitu kitab Taurat yang membenarkan Al Qur’an dan dibenarkan oleh Al Qur’an (saling membenarkan), sehingga hak keduanya sama dan kuat buktinya. Oleh karena itu, Dia memerintahkan kita agar tidak ragu menerima Al Qur’an, karena telah datang dalil-dalil dan bukti-buktinya yang tidak menyisakan lagi keraguan. Ada yang mengatakan, maksudnya adalah, sebagaimana telah diberikan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam kitab Taurat, begitu juga diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kitab Al-Quran. Sebagaimana Taurat dijadikan petunjuk bagi Bani Israil, maka Al Quran juga dijadikan petunjuk bagi ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[29] Mereka mengambil petunjuk darinya dalam masalah dasar maupun furu’ (cabang). Syariat-syariat dalam kitab Taurat sesuai pada zaman itu bagi Bani Israil. Adapun Al Qur’an ini, maka Allah jadikan sebagai petunjuk untuk semua manusia baik untuk urusan agama mereka maupun dunia dan tetap sesuai dan relevan sampai hari Kiamat karena kesempurnaan dan ketinggiannya.

[30] Yakni para ulama yang diikuti umat. Diri mereka memperoleh hidayah (petunjuk) dan menunjukkan orang lain dengan hidayah itu. Kitab yang diurunkan kepada mereka adalah hidayah, dan orang-orang yang beriman kepadanya ada dua golongan; golongan yang menjadi pemimpin yang membimbing umat dengan perintah Allah, dan golongan yang mengikuti yang sama mendapatkan petunjuk. Golongan pertama ini derajatnya sangat tinggi, menduduki posisi di bawah kenabian dan kerasulan. Derajat yang mereka tempati adalah derajat shiddiqin. Mereka memperoleh derajat itu karena sabar dalam beramal, belajar dan berdakwah serta bersabar dalam memikul derita di jalan-Nya. Mereka pun menahan diri mereka dari terjun ke dalam maksiat dan terbawa syahwat.

[31] Iman mereka kepada ayat-ayat Allah Ta’ala mencapai derajat yakin, yang merupakan pengetahuan sempurna yang menghendaki untuk beramal. Mereka memperoleh derajat yakin, karena mereka belajar dengan benar dan mengambil masalah dari dalil-dalilnya yang membuahkan keyakinan. Dengan kesabaran dan keyakinan itulah mereka memperoleh kedudukan imamah fiddin (pemimpin agama).

[32] Namun di sana terdapat berbagai permasalahan yang diperselisihkan Bani Israil, di antara mereka ada yang memperoleh kebenaran, dan di antara mereka ada yang keliru sengaja atau tidak. Pada hari Kiamat, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memutuskan permasalahan yang mereka perselisihkan. Dan Al Qur’an ini juga menerangkan perkara yang benar dalam masalah yang mereka perselisihkan, oleh karenanya setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka, maka akan ditemukan dalam Al Qur’an jawabannya yang benar. Apa yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah kebenaran, dan yang menyelisihinya adalah kebatilan.

[33] Yakni orang-orang yang mendustakan Rasul.

[34] Yang menempuh jalan seperti yang mereka sekarang ini tempuh.

[35] Yaitu ketika mereka bepergian ke Syam atau lainnya, yang seharusnya mereka mengambil pelajaran darinya.

[36] Yang menunjukkan kebenaran para rasul yang datang kepada mereka, yang menunjukkan batilnya apa yang mereka pegang selama ini, seperti kemusyrikan dan kebiasaan buruk (adat-istiadat yang bertentangan dengan syariat), dan bahwa siapa saja yang berbuat seperti mereka, akan diberlakukan hukuman yang sama. Demikian juga menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan membangkitkan mereka dan memberikan balasan kepada mereka.

[37] Ayat-ayat Allah, lalu mereka dapat mengambil manfaat darinya. Jika mereka memiliki pendengaran yang baik dan akal yang cerdas, tentu mereka tidak akan tetap seperti itu.

[38] Yakni nikmat-nikmat Kami dan sempurnanya kebijaksanaan Kami.

[39] Nikmat itu, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghidupkan dengan air itu bumi setelah matinya. Dari sana pun mereka dapat mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mampu menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Akan tetapi, kebutaan dan kelalaian menguasai mereka, mereka memperhatikan dengan perhatian yang lalai, tidak meresapi dan tidak mengambil pelajaran darinya, sehingga mereka tidak diberi taufik kepada kebaikan.

[40] Yakni orang-orang yang berdosa itu.

[41] Kepada orang-orang mukmin tentang azab yang diancamkan kepada mereka itu karena pendustaan mereka, kebodohan dan sikap membangkang.

[42] Hari kemenangan ialah hari Kiamat, atau kemenangan dalam perang Badar, atau penaklukan kota Makkah, di mana ketika itu mereka merasa terpukul dan tertimpa azab.

[43] Karena beriman ketika itu karena terpaksa.

[44] Untuk bertobat dan mengejar hal yang telah mereka tinggalkan.

[45] Ketika percakapan mereka menjadi kebodohan dan meminta disegerakan azab.

[46] Peristiwa dahsyat yang akan menimpa mereka. Karena azab itu sudah harus menimpa mereka, akan tetapi ada waktunya yang jika datang tidak dapat dimajukan dan tidak dapat ditunda.

[47] Mereka pun sama menunggu musibah yang menimpa Beliau, seperti kematian atau terbunuh. Padahal kesudahan yang baik akan diberikan kepada orang-orang yang bertakwa.

==================

TAFSIR RINGKAS AYAT 23-25

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa al-Kitab,” Kami telah memberikan kepada Nabi Musa Alaihissallam , salah satu nabi Bani Israil, sebuah kitab yang agung, yaitu Taurat. Sebenarnya orang-orang musyrik tidak mengingkari bahwa Rabb-mu telah memberikanmu al-Qur’an sebagaimana Rabb-mu telah memberikan Taurat kepada Musa Alaihissallam . Pada ayat ini terdapat penetapan salah satu pokok di antara pokok-pokok aqidah, yaitu adanya wahyu dan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya,” Janganlah kamu ragu wahai Muhammad ketika bertemu dengan Musa Alaihissallam di malam isrâ’ dan mi’râj. Kamu benar-benar telah bertemu dengannya dan dia telah memintamu kembali ke hadapan Rabb-mu untuk meminta keringanan dalam masalah shalat, sehingga pada akhirnya hanya menjadi lima kali, yang sebelumnya diperintahkan sebanyak lima puluh kali.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Kami menjadikannya itu petunjuk bagi Bani Israil”, menjadikan al-Kitab atau Musa Alaihissallam sebagai petunjuk untuk Bani Israil agar dapat menuju jalan keselamatan dan jalan yang lurus.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin” yaitu pemimpin-pemimpin yang bisa membimbing manusia menuju Rabb mereka, sehingga mereka bisa beriman kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, menyempurnakan ibadah mereka dengan petunjuk tersebut dan berbahagia. Ini semua dilakukan dengan perintah Allâh kepada mereka.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Ketika mereka sabar”, yaitu kesabaran dari gangguan kaum-kaumnya. Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami” yang mengandung perintah, larangan, kabar gembira dan ancaman. Dan mereka mengemban tugas dakwah dengan dua hal: sabar terhadap gangguan dan benar-benar yakin terhadap apa yang mereka dakwahkan. 

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, “Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.”

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Allâh Azza wa Jalla yang akan menyelesaikan perselisihan antara para Nabi dengan kaumnya, antara orang-orang yang bertauhid dengan orang-orang musyrik dan antara ahli sunnah dengan ahli bid’ah. Allâh Azza wa Jalla memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang haq dan menyengsarakan orang-orang yang batil. 
Ayat ini adalah ayat untuk menghibur Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meringankan kesusahan hatinya karena kaumnya telah menyelisihinya.[1] 

PENJABARAN AYAT
Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

فَلَا تَكُنْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَائِهِ 

Maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dan Qatâdah rahimahullah menyatakan bahwa makna bertemu dengannya adalah bertemu dengan Nabi Musa Alaihissallam ketika malam isrâ’ dan mi’râj, sebagaimana disebutkan dalam hadîts-hadîts yang shahîh tentang peristiwa isrâ’ dan mi’râj.

As-Suddi rahimahullah menyatakan bahwa makna “maka janganlah kamu (Muhammad) ragu ketika bertemu dengannya” adalah janganlah kamu ragu dengan keridlaan dan penerimaan Musa Alaihissallam terhadap kitab Allâh Azza wa Jalla .[2] 

Firman Allâh Azza wa Jalla : 

وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ 

Dan Kami menjadikannya itu petunjuk bagi Bani Israil

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa kata ganti "nya" dalam ayat di atas maksudnya adalah al-Kitab (Taurat), sementara Qatâdah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah Musa Alaihissallam [3] 

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintahKami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.

Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu yaitu dari Bani Israil ‘pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami’, yaitu para Ulama yang paham terhadap syariat dan jalan menuju hidayah. Mereka telah diberikan petunjuk dan juga memberikan petunjuk kepada selain mereka. Ini karena adanya petunjuk (dari Allâh). Dan al-Kitab yang diturunkan kepada mereka adalah petunjuk.

Orang-orang yang beriman di antara mereka ada dua kelompok, yaitu: para pemimpin yang memberikan petunjuk sesuai perintah Allâh Azza wa Jalla dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk karena sebab pemimpin-pemimpin tersebut.

Kelompok pertama adalah kelompok yang lebih tinggi derajatnya setelah derajat kenabian dan kerasulan. Derajat ini adalah derajat orang-orang yang shiddîq (membenarkan). Mereka mendapatkan derajat yang tinggi ini karena kesabaran mereka ketika belajar, mengajarkan, berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla dan ketika diganggu saat berdakwah. Mereka menahan diri mereka dari perbuatan maksiat dan terjatuh kepada syahwat-syahwat.

Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, ‘Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami’, mereka telah sampai kepada derajat yakin dalam keimanan terhadap ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla . Dia adalah ilmu yang sempurna yang menuntut seseorang untuk beramal. Mereka sampai ke derajat yakin karena mereka telah belajar dengan cara yang benar dan menyelesaikan permasalah-permasalah dengan dalil-dalinya yang dapat mendatangkan keyakinan.

Mereka senantiasa mempelajari permasalahan-permasalahan dan berdalil dengan banyak dalil, sampai mereka mendapatkan keyakinan. Oleh karena itu, dengan kesabaran dan keyakinan, maka akan diraih kepemimpinan dalam agama.[4] 

Ada sebuah kaidah :

بِالصَّبْرِ وَاْليَقِيْنِ، تُنَالُ الإمَامَةُ فِي الدّيْنِ

Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama akan bisa diraih

Kaidah ini memiliki landasan di dalam syariat. Banyak Ulama yang menjadikan dua syarat ini sebagai syarat untuk bisa menjadi pemimpin di dalam agama. Pemimpin yang dapat mengajak orang-orang yang bertakwa untuk melakukan perbuataan-perbuatan taat dan melarang mereka dari berbuat yang mungkar. Pemimpin-pemimpin yang diteladani, diikuti dan diambil ilmu, akhlak, adab dan amalannya oleh orang-orang yang bertakwa di sekitarnya. 

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata:

فَمَنْ أُعْطِيَ الصَّبْرَ وَالْيَقِينَ: جَعَلَهُ اللَّهُ إمَامًا فِي الدِّينِ

Barangsiapa yang diberikan kesabaran dan keyakinan maka Allâh akan menjadikannya pemimpin di dalam agama[5] 

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “... Bahwasanya pemimpin-pemimpin agama yang mereka dijadikan teladan adalah orang-orang yang menggabungkan antara kesabaran, keyakinan dan juga berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla dengan sunnah dan wahyu, bukan dengan pendapat-pendapat atau bid’ah-bid’ah. Mereka adalah pengganti-pengganti atau penerus-penerus Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam umatnya. Mereka adalah orang-orang khusus baginya dan juga wali-walinya. Barangsiapa yang memusuhi dan memerangi mereka maka sesungguhnya dia telah memusuhi Allâh Azza wa Jalla . Dan Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan mengumumkan peperangan kepadanya.”[6] 

URGENSI KESABARAN
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dan berkata Ibnu Binti asy-Syâfi'i, ‘Bapakku membaca hadits di hadapan pamanku atau pamanku membaca hadits di hadapan bapakku, Sufyân ditanya tentang perkataan ‘Ali Radhiyallahu anhu. 

الصَّبْرُ مِنَ الْإيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

Kedudukan sabar dalam keimanan seperti kedudukan kepala terhadap badan. 

Sufyân Radhiyallahu anhu berkata, “Tidakkah engkau mendengar perkataan Allâh Azza wa Jalla : 

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar?

Kemudian Sufyân Radhiyallahu anhu mengatakan :
لَمَّا أَخَذُوْا بِرَأْسِ الْأَمْرِ صَارْوُا رُؤُوْسًا
Ketika mereka mengambil inti dari segala urusan maka mereka menjadi pemimpin-pemimpin.[7] 

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga telah menyempurnakan kalimat-kalimatnya untuk Bani Israil karena kesabaran yang mereka miliki. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا

Dan telah sempurnalah perkataan Rabb-mu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. [Al-A’râf/7:137]

Allâh Azza wa Jalla juga senantiasa membantu dan menolong orang-orang yang bersabar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu! Sesungguhnya Allâh beserta orang-orang yang sabar. [Al-Baqarah/2:153]

Begitu pula Allâh telah menjadikan mereka pemimpin-pemimpin karena mereka sabar dalam ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . 

Allâh berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Dan Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu beribadah.” [Al-Anbiyâ’/21 : 73]

Perbedaan antara mengharapkan kepemimpinan di dunia dan kepemimpinan agama untuk berdakwah

Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

Wahai ‘Abdurrahmân bin Samurah! Janganlah kamu meminta kepemimpinan! Sesungguhnya jika itu diberikan kepadamu dengan cara kamu memintanya, maka kamu akan dibiarkan untuk mengurusnya sendiri. Tetapi jika itu diberikan kepadamu tanpa engkau memintanya, maka engkau akan dibantu untuk mengurusnya.[8] 

Hadits ini menunjukkan tercelanya meminta jabatan atau kepemimpinan. Tetapi kepemimpinan yang dimaksud dalam hadits ini adalah kepemimpinan dalam urusan duniawi. Adapun menjadi pemimpin-pemimpin orang yang bertakwa, maka itu adalah kedudukan yang tinggi di hadapan Allâh Azza wa Jalla dan tidak ada cela sedikit pun padanya. 

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Apabila seorang hamba yang berdakwah menuju Allâh Azza wa Jalla menginginkan untuk menjadi orang yang besar di mata-mata pengikutnya, disegani di hati-hati mereka, dicintai oleh mereka dan menjadi orang yang ditaati di antara mereka agar mereka mengikuti dan menjalankan peninggalan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bimbingan darinya, maka hal tersebut tidak berbahaya bagi dirinya. Bahkan, dia dipuji atas apa yang dilakukannya... Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan para hamba-Nya yang memiliki kedekatan secara khusus kepada-Nya dan memuji mereka dalam al-Qur’an serta membalas mereka dengan balasan yang paling baik di hari pertemuan dengan-Nya. Allâh menyebutkan amalan-amalan terbaik yang mereka lakukan dan sifat-sifat mereka (yaitu di bagian akhir surat al-Furqan-pen). Kemudian Allâh Azza wa Jalla mengatakan:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata, "Wahai Rabb kami! Anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata-mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [Al-Furqan/25 :74]

Mereka meminta kepada Allâh Azza wa Jalla agar Allâh Azza wa Jalla menyejukkan pandangan-pandangan mereka dengan ketaatan kepada Allâh yang dilakukan oleh istri-istri dan anak keturunannya dan bisa membuat hati-hati mereka senang dengan ikutnya orang-orang yang bertakwa kepadanya di dalam ketaatan dan ibadah. Sesungguhnya imam dan pengikutnya saling membantu di dalam ketaatan. Mereka meminta hal tersebut dan membimbing orang-orang yang bertakwa untuk melakukan hal-hal yang diridai Allâh Azza wa Jalla dan melakukan ketakwaan kepada-Nya. Doalah yang mereka ucapkan kepada Allâh Azza wa Jalla untuk mendapatkan kepemimpinan di dalam agama, yang mana pondasinya adalah kesabaran dan keyakinan. 

Hal ini berbeda dengan ambisi untuk meraih kepemimpinan (dunia). Sesungguhnya orang-orang yang mencarinya akan berusaha keras untuk mendapatkannya, agar mendapatkan tujuan-tujuan mereka yang berupa kedudukan tinggi di dunia... Dampak dari ambisi ini adalah munculnya kerusakan-kerusakan yang hanya diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla , baik berupa: perampasan hak orang lain, hasad, melampai batas, dengki, kezaliman, fitnah, melindungi diri sendiri tanpa memperhatikan hak Allâh Azza wa Jalla , mengagungkan orang-orang yang dihinakan oleh Allâh Azza wa Jalla , menghinakan orang-orang yang dimuliakan oleh Allâh Azza wa Jalla . Dan tidak akan sempurna kepemimpinan duniawi kecuali dengan melakukan hal-hal tersebut.”[9] 

Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Sesungguhnya Rabbmu-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Rabb kamu wahai Muhammad, yang menjelaskan segala hal di antara makhluknya di hari kiamat atas apa-apa yang mereka berselisih di dunia, baik dalam urusan: agama, kebangkitan, balasan baik, hukuman dan yang lainnya... Kemudian Dia akan membedakan di antara mereka dengan keputusannya yang adil, Dia akan membalas orang-orang yang haq dengan surga dan orang-orang yang batil dengan neraka.”[10] 

Demikianlah penjelasan tentang ayat-ayat di atas. Dan kita bisa menarik kesimpulan bahwasanya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa tidak mungkin diraih kecuali dengan kesabaran dan keyakinan.

Mudah-mudahan penulis dan pembaca dijadikan oleh Allâh sebagai pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, sehingga mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allâh. Amin.

Mudahan bermanfaat. 

Daftar Pustaka
1. Adhwâul-Bayân fi Îdhâhil-Qur’ân bil-Qur’ân. Muhammad Al-Amîn Asy-Syinqîthi. 1415 H/1995 M. Libanon: Dârul-Fikr.
2. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri. Al-Madinah: Maktabah Al-‘Ulûm wal-hikam
3. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin 'Âsyûr. 1997. Tinusia: Dar Sahnûn.
4. Ma'âlimut-tanzîl. Abu Muhammad Al-Husain bin Mas'ûd Al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
5. Tafsîr Al-Qur'ân Al-'Adzhîm. Ismâ'îl bin 'Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
6. Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân. Abdurrahmân bin Nâshir As-Sa'di. Beirut: Muassasah Ar-Risâlah.
7. Risâlah Ibnil-Qayyim Ilâ Ahadi ikhwâni. Muhammad bin Abî Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah. 1420 H. Riyadh: Fahrisah Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyah.
8. Ar-Rûh. Muhammad bin Abi Bakr bin Qayyim Al-Jauziyah. 1395 H/1975. Beirut: Dâr Al-Kutub Al-‘Ilmiyah.
9. Majmû’ Al-Fatâwâ. Taqiyuddin Abul-‘Abbâs Ahmad bin Abdil-Halîm bin Taimiyah. 1426 H/2005. Mesir: Dârul-Wafâ’.
10. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar sudah tercantum di footnotes.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVIII/1436H/2014M.]
_______
Footnote
[1]. Aisarut-Tafâsîr III/267.
[2]. Lihat Ma’âlimut-Tanzîl VI/308 dan Tafsîr Ibni Katsîr VI/371.
[3]. Ma’âlimut-Tanzîl VI/309.
[4]. Tafsîr As-Sa’di hal. 656-657.
[5]. Majmû’ Al-Fatâwâ VI/215.
[6]. Risalah Ibnil-Qayyim Ila Ahadi ikhwâni hal. 24
[7]. Tafsîr Ibni Katsîr VI/371.
[8]. HR Al-Bukhari no. 6622 dan Muslim no. 1652
[9]. Ar-Rûh hal. 252-253.
[10]. Tafsîr Ath-Thabari 18/639.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir As Sajdah Ayat 15-30"

Post a Comment