Tafsir Al Qashash Ayat 1-13

Surah Al Qashash (Kisah-Kisah)

Surah ke-28. 88 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-6: Kemukjizatan Al Qur’an, kisah Nabi Musa ‘alaihis salam dan Fir’aun sebagai bukti kebenaran Al Qur’an, kekejaman Fir’aun dan pertolongan Allah kepada Bani Israil yang tertindas serta akibat orang-orang yang sombong.



طسم (١) تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ (٢) نَتْلُوا عَلَيْكَ مِنْ نَبَإِ مُوسَى وَفِرْعَوْنَ بِالْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (٣) إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (٤) وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الأرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ (٥)وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُمْ مَا كَانُوا يَحْذَرُونَ (٦

Terjemah Surat Al Qashash Ayat 1-6

1. Thaa Siin Miim.

2. Ini ayat-ayat kitab (Al Quran) yang menjelaskan[1].

3. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan sebenarnya[2] untuk orang-orang yang beriman[3].

4. Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi (Mesir) dan menjadikan penduduknya berpecah belah[4], dia menindas segolongan dari mereka[5], dia menyembelih anak laki-laki mereka[6] dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir'aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan[7].

5. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin[8] dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)[9],

6. Dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi[10] dan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta bala tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka[11].



Ayat 7-13: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, dihanyutkan Beliau ke sungai Nil untuk menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun, dan bahwa kisah-kisah dalam Al Qur’an terdapat pelajaran dan nasihat.



وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخَافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (٧)فَالْتَقَطَهُ آلُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ عَدُوًّا وَحَزَنًا إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا خَاطِئِينَ (٨) وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا إِنْ كَادَتْ لَتُبْدِي بِهِ لَوْلا أَنْ رَبَطْنَا عَلَى قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (١٠) وَقَالَتْ لأخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (١١) وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ الْمَرَاضِعَ مِنْ قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ يَكْفُلُونَهُ لَكُمْ وَهُمْ لَهُ نَاصِحُونَ (١٢) فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (١٣

Terjemah Surat Al Qashash Ayat 7-13

7. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau khawatir[12] dan jangan (pula) bersedih hati[13], sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) rasul[14].

8. Maka dia dipungut oleh keluarga Fir'aun[15] agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka[16]. Sungguh, Fir'aun dan Haman[17] bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah[18].

9. Dan istri Fir'aun[19] berkata[20], "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya[21], mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak[22],” sedang mereka tidak menyadari[23].

10. Dan hati ibu Musa menjadi kosong[24]. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman[25] (kepada janji Allah).

11. Dan dia (ibu Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, "Ikutilah dia (Musa)[26]." Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya[27],

12. [28]dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudara Musa), "Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?"

13. Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya[29].


[1] Yakni menjelaskan mana yang hak dan mana yang batil, menjelaskan segala yang dibutuhkan hamba, seperti kebutuhan mengenal Tuhannya, mengenal hak-hak-Nya, mengenal siapa wali-Nya dan siapa musuh-Nya, mengenal peristiwa-peristiwa besar dan mengenal pembalasan terhadap amal. Termasuk di antara sekian yang dijelaskan Al Qur’an adalah kisah Musa bersama Fir’aun, di mana Al Qur’an menampilkan kisahnya dan mengulanginya di beberapa tempat, dan pada surah ini diterangkan secara lebih luasnya.

[2] Karena berita keduanya asing, namun menarik.

[3] Karena merekalah yang dapat mengambil manfaat darinya. Kepada mereka ditujukan khithab (perkataan) ini, di mana keimanan yang ada dalam hati mereka menghendaki untuk memikirkan peristiwa itu dan menjadikannya pelajaran. Iman dan keyakinan mereka bertambah dengannya, demikian pula kebaikannya. Adapun selain mereka, maka tidak dapat mengambil faedah selain menegakkan hujjah, dan Allah menjaga kitabnya dari mereka serta mengadakan dinding sehingga mereka tidak dapat memahaminya.

[4] Ia bertindak semaunya terhadap mereka dan memberlakukan untuk mereka sesuatu yang ia inginkan karena berkuasa terhadap mereka.

[5] Yaitu Bani Israil, di mana mereka adalah umat yang Allah lebihkan pada masa itu di atas umat-umat yang lain, sehingga pantas untuk dimuliakan oleh Fir’aun. Tetapi kenyataannya, Fir’aun malah menindas mereka karena dilihatnya mereka tidak memiliki kekuatan untuk menolak keinginannya, sehingga Fir’aun tidak peduli lagi mau berbuat apa terhadap mereka sampai akhirnya ia berani menyembelih anak laki-laki mereka yang baru lahir karena khawatir jumlah Bani Israil semakin banyak sehingga memenuhi negerinya dan akhirnya menguasai kerajaannya.

[6] Yang baru lahir. Fir’aun melakukan hal itu karena kekhawatiran kerajaannya akan hancur berdasarkan berita yang sampai kepadanya dari sebagian dukun, bahwa akan lahir dari Bani Israil seorang anak yang akan menjadi sebab hilangnya kerajaan Fir’aun. Ada pula yang berpendapat, bahwa sebab ia membunuh anak laki-laki dari kalangan Bani Israil adalah karena berita yang sampai kepadanya dari orang-orang Qibth (Mesir), di mana mereka mendengar cerita dari kaum Bani Isra’il yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bahwa akan keluar dari keturunannya seorang anak yang akan menggulingkan kekuasaan raja Mesir. Wallahu a’lam.

[7] Yakni tergolong orang-orang yang tidak memiliki keinginan untuk mengadakan perbaikan terhadap keadaan agamanya dan dunianya.

[8] Dalam kebaikan, dan hal ini tidak mungkin tercapai jika kondisinya lemah, bahkan mereka perlu diberi keteguhan di bumi serta diberikan kemampuan yang sempurna.

[9] Maksudnya, negeri Syam, Mesir dan negeri-negeri sekitarnya yang pernah dikuasai Fir'aun. Setelah kerajaannya runtuh, negeri-negeri tersebut diwarisi Bani Israil. Mereka memperoleh akibat yang baik di dunia sebelum di akhirat nanti.

[10] Di negeri Mesir dan Syam. Ini semua tergantung iradah dan kehendak Allah.

[11] Fir'aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan dihancurkan oleh Bani Israil, oleh karena itulah dia membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil. Ayat ini menyatakan bahwa akan terjadi apa yang dikhawatirkannya itu. Allah Subhaanahu wa Ta'aala apabila menginginkan sesuatu, maka Dia memudahkan sebab-sebabnya dan menyiapkan jalannya, demikian pula dalam masalah ini. Dia telah menakdirkan dan menjalankan sebab-sebabnya yang tidak diketahui oleh wali-wali-Nya dan musuh-musuh-Nya, di mana sebab tersebut dapat mencapai kepada maksud yang dikehendaki Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Awal sebab yang dimunculkan Allah adalah Dia mengadakan Rasul-Nya Musa ‘alaihis salam, yang Dia jadikan sebagai orang yang akan menyelamatkan Bani Israil ini melalui tangannya dan dengan sebabnya, di mana ketika itu sedang terjadi peristiwa yang mengerikan, yaitu penyembelihan terhadap anak laki-laki yang lahir. Allah mengilhamkan kepada ibu Nabi Musa agar menyusuinya dan tetap bersamanya. Jika ia khawatir terhadap anaknya, maka Allah mengilhamkan agar ia memasukkan bayinya ke dalam peti lalu menghanyutkannya ke sungai Nil.

[12] Akan tenggelam.

[13] Karena berpisah dengannya.

[14] Ini adalah berita gembira yang sangat agung. Allah mendahulukan berita ini kepada ibu Nabi Musa agar hatinya tenteram dan hilang rasa kekhawatirannya, maka ia melakukan yang diperintahkan itu.

[15] Mereka memungut peti itu, lalu membawanya dan menaruhnya di hadapan Fir’aun, lalu dikeluarkanlah bayi Musa dari peti itu.

[16] Yakni agar akibat dari memungutnya adalah ia menjadi musuh mereka dan membuat mereka sedih karena sikap waspada dari mereka jika kerajaannya digulingkan tidaklah mengangkat takdir, dan karena orang yang mereka khawatirkan itu -tanpa mereka sadari- ternyata tumbuh besar di bawah asuhan mereka. Di samping itu, mereka sebenarnya tidak ingin memungut bayi itu. Jika kita perhatikan peristiwa ini, kita akan menemukan di dalamnya berbagai maslahat bagi Bani Israil, menyingkirkan beban berat yang menimpa mereka selama ini, mencegah tindak penganiayaan yang sebelumnya menimpa mereka, dsb. karena Nabi Musa ‘alaihis salam termasuk pembesar di kerajaan Fir’aun. Maka dari itu, tentu adanya pembelaan terhadap hak bangsa yang lemah ini (Bani Israil), sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam sendiri memiliki niat yang luhur dan semangat yang membara. Oleh karena itulah, sampai ada di antara bangsa yang lemah ini seorang yang berani menentang bangsa yang sombong itu (kaum Fir’aun). Ini merupakan awal kemenangan, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala termasuk sunnah-Nya yang berlaku adalah mengadakan perkara secara bertahap, tidak sekaligus.

[17] Haman adalah mentri Fir’aun.

[18] Oleh karena itulah, Allah ingin memberikan hukuman kepada mereka.

[19] Ia bernama Asiyah binti Muzahim.

[20] Ketika Fir’aun dan orang-orang dekatnya hendak membunuhnya.

[21] Maka mereka pun menataatinya.

[22] Yakni, ia bisa menjadi pelayan kita yang membantu urusan kita atau kita tinggikan kedudukannya menjadi anak angkat kita yang kita muliakan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menakdirkannya, bahwa ia (Musa) ternyata bermanfaat bagi istri Fir’aun. Ketika Musa menjadi penyejuk matanya dan ia mencintainya sekali sehingga seperti anak kandungnya, sampai pada usia dewasa dan Allah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul, ternyata ia segera masuk Islam dan beriman kepada Musa radhiyallahu 'anha.

[23] Akibat yang akan mereka alami. Hal ini termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[24] Setelah ibu Musa menghanyutkan Musa di sungai Nil, maka timbullah penyesalan dan kesedihan di hatinya karena kekhawatiran atas keselamatan Musa, bahkan hampir saja ia berteriak meminta tolong kepada orang-orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri.

[25] Berdasarkan ayat ini, maka seorang hamba apabila mendapatkan musibah, lalu ia bersabar, maka imannya akan bertambah. Ayat ini juga menunjukkan bahwa jika musibah dihadapi dengan sikap keluh kesah terus menerus, maka menunjukkan kelemahan imannya.

[26] Yakni agar engkau mengetahui bagaimana keadaannya.

[27] Bahwa ia saudarinya dan bahwa ia sedang mengawasi.

[28] Termasuk kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Musa dan ibunya adalah Dia mencegah Musa dari menyusu kepada wanita siapa pun selain ibunya. Mereka pun mencari-cari orang yang bisa menyusukannya, ketika itu saudari Nabi Musa melihatnya, namun mereka tidak mengetahui bahwa ia saudarinya. Saudarinya berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?"

Ibnu Abbas berkata, “Ketika saudari Musa mengatakan seperti itu, mereka berkata kepadanya, “Tahu dari mana kamu bahwa ada orang yang siap berlaku baik dan sangat sayang kepadanya?” Saudari Musa pun berkata, “Karena ia ingin menggembirakan raja dan ingin mendapatkan manfaatnya.” Ketika itu mereka pun menuruti nasehatnya. Saat mereka sampai di hadapan ibu Nabi Musa, Musa pun mau menyusui. Mereka tidak menyadari bahwa itu adalah ibu Musa ‘alaihis salam. Mereka pun senang terhadapnya, dan mengirimkan seseorang untuk memberitahukan hal itu kepada Asiyah istri Fir’aun. Lalu dipanggillah ibu Nabi Musa serta ditawarkan untuk tinggal di rumahnya, namun ibu Nabi Musa menolak dengan alasan bahwa ia memiliki banyak anak yang harus diurus, ia akan siap mengurus jika Musa diurus di tempatnya saja. Maka Asiyah pun menerimanya dan mengirim Musa kepadanya dengan memberinya upah, di samping nafkah, pakaian dan pemberian lainnya.

Subhaanallah! Nikmat yang begitu besar, anaknya kembali kepadanya, ditambah dengan mendapatkan imbalan yang banyak, Sungguh Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (Terj. Al Qashshas: 13)

Disebutkan dalam sebagian kitab tafsir, bahwa Musa ‘alaihis salam tinggal kembali bersama ibunya sampai masa menyapih selesai, dan ibunya mendapatkan upah karena menyusui Musa setiap hari satu dinar, dan ia mengambilnya, karena ia adalah harta kafir harbiy, lalu ibunya membawa ke hadapan Fir’aun dan tumbuhlah Nabi Musa ‘alaihis salam di sisinya, ia menaiki kendaraan kerajaan, memakai pakaian mereka, dsb. wallahu a’lam.

[29] Biasanya mereka apabila melihat sebabnya tidak jelas, maka iman mereka pun goyang karena pengetahuan mereka yang tidak sempurna, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengadakan ujian yang berat dan rintangan yang besar sebelum perkara-perkara yang mengagumkan dan mulia.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Al Qashash Ayat 1-13"

Post a Comment