Tafsir Al Hadid Ayat 22-29

Ayat 22-24: Menerima dan ridha kepada qadar Allah, dan peringatan kepada kaum mukmin agar tidak bakhil dan enggan berinfak.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (٢٢) لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (٢٣) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (٢٤)

Terjemah Surat Al Hadid Ayat 22-24

22. [1]Setiap bencana yang menimpa di bumi[2] dan yang menimpa dirimu sendiri[3], semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

23. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira[4] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong[5] dan membanggakan diri[6],

24. (yaitu) orang-orang yang kikir[7] dan menyuruh orang lain berbuat kikir[8]. Barang siapa berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji.

Ayat 25-26: Pengutusan para rasul dan penjelasan tentang maksud dari diutusnya mereka yaitu menyampaikan petunjuk, kabar gembira dan peringatan, serta penjelasan bahwa besi adalah karunia Allah yang merupakan pokok kekuatan untuk membela agama Allah dan memenuhi kebutuhan hidup.



لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢٥) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ فَمِنْهُمْ مُهْتَدٍ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (٢٦)



Terjemah Surat Al Hadid Ayat 25-26

25. Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata[9] dan Kami turunkan bersama mereka kitab[10] dan neraca (keadilan)[11] agar manusia dapat berlaku adil[12]. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia[13], dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun Allah tidak dilihatnya[14]. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa[15].

26. [16]Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami berikan kenabian dan kitab (wahyu) kepada keturunan keduanya[17], di antara mereka[18] ada yang menerima petunjuk[19] dan banyak di antara mereka yang fasik[20].

Ayat 27-29: Tidak ada rahbaaniyyah (kerahiban) dalam agama Allah, ajakan kepada Ahli Kitab untuk masuk ke dalam Islam agar memperoleh dua pahala, dan penjelasan bahwa kenabian dan hidayah serta iman di Tangan Allah; Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya.



ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (٢٧) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٢٨) لِئَلا يَعْلَمَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَلا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩)



Terjemah Surat Al Hadid Ayat 27-29

27. Kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami mengikuti jejak mereka dan Kami susulkan (pula) Isa putra Maryam[21]; dan Kami berikan Injil kepadanya[22] dan Kami jadikan rasa santun dan kasih sayang dalam hati orang-orang yang mengikutinya[23]. Mereka mengada-adakan rahbaniyyah[24] padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridhaan Allah, tetapi tidak mereka pelihara dengan semestinya[25]. Maka kepada orang-orang yang beriman di antara mereka[26] Kami berikan pahalanya dan banyak di antara mereka yang fasik.

28. Wahai orang-orang yang beriman[27]! Bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Muhammad), niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian[28], dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan[29] serta Dia mengampuni kamu[30]. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

29. [31]agar Ahli Kitab mengetahui bahwa sedikit pun mereka tidak akan mendapat karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwa karunia itu ada di Tangan Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki[32]. Dan Allah mempunyai karunia yang besar[33].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan meratanya qadha’ dan qadar-Nya.

[2] Seperti kemarau panjang.

[3] Ayat ini mencakup semua musibah yang menimpa makhluk, yang baik maupun yang buruk, dimana semuanya telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh yang kecil maupun yang besar. Perkara ini adalah perkara besar yang tidak dapat dijangkau akal, bahkan hati orang-orang yang berakal sampai lalai di sini, tetapi bagi Allah yang demikian sangat mudah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang demikian agar kaidah ini menetap pada mereka dan mereka mendasari di atasnya dalam semua yang mereka peroleh, baik atau buruk, sehingga mereka tidak berputus asa dan bersedih terhadap hal yang luput dari mereka dimana diri mereka rindu kepadanya karena mereka mengetahui bahwa hal itu tertulis dalam Lauh Mahfuzh, harus diberlakukan dan harus terjadi sehingga tidak ada jalan untuk menolaknya, demikian pula mereka tidak bergembira dengan sombong terhadap apa yang Allah berikan kepada mereka karena mereka tahu bahwa yang mereka peroleh itu bukan karena upaya dan kekuatan mereka, tetapi dengan karunia Allah dan nikmat-Nya, sehingga mereka pun menyibukkan diri dengan bersyukur kepada Allah yang melimpahkan nikmat itu dan menghindarkan bahaya dari mereka.

[4] Yang dimaksud dengan terlalu gembira, ialah gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah, bahkan yang benar adalah gembira bersyukur.

[5] Terhadap apa yang diberikan kepadanya dan merasa ujub dengannya.

[6] Di hadapan manusia, ia menisbatkan nikmat itu kepada dirinya, tidak kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[7] Terhadap yang wajib mereka keluarkan.

[8] Yakni bagi mereka ini azab yang pedih. Mereka menggabung antara dua perkara yang tercela, dimana salah satunya sesungguhnya sudah cukup menunjukkan keburukannya. Kedua perkara itu adalah yang pertama bakhil (kikir), yaitu menahan hak-hak yang wajib diberikan, dan yang kedua adalah memerintahkan manusia berbuat demikian dengan mendorong berbuat kikir baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ini tidak lain karena berpaling dari menaati Allah, padahal barang siapa berpaling dari menaati Allah, maka tidak ada yang ia rugikan kecuali dirinya dan Allah tidaklah terkena madharrat sedikit pun, karena Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji, dimana kekayaan menjadi lawazim (yang mesti) pada zat-Nya; milik-Nya kerajaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengkayakan hamba-hamba-Nya dan mencukupkan mereka, dan Dia Maha Terpuji; Dia memiliki semua nama yang baik, sifat yang sempurna, perbuatan yang indah sehingga berhak untuk dipuji, disanjung dan diagungkan.

[9] Yaitu dalil-dalil, bukti-bukti dan tanda yang menunjukkan kebenaran yang mereka bawa.

[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkannya sebagai hidayah bagi makhluk dan untuk membimbing mereka kepada hal yang bermanfaat bagi mereka baik pada agama maupun dunia mereka.

[11] Yaitu keadilan baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan. Agama yang yang dibawa para rasul berisi keadilan dalam perintah dan larangan, dan dalam bermu’amalah dengan makhluk, dalam jinayat, qishas, hudud, mawarits, dan lain-lain.

[12] Yakni dapat menegakkan agama Allah dan mewujudkan maslahat mereka yang begitu banyak. Ayat ini merupakan dalil bahwa para rasul semuanya sepakat dalam kaidah syara’, yaitu menegakkan keadilan meskipun berbeda-beda gambaran keadilan itu sesuai situasi, kondisi dan zaman.

[13] Kita dapat melihat banyak peralatan yang dibuat manusia tidak lepas dari besi.

[14] Yakni agar Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan pasar ujian dengan apa yang diturunkan-Nya berupa kitab dan besi, sehingga menjadi jelas siapa yang menolong agama-Nya dan para rasul-Nya meskipun Dia tidak dilihat mereka, dimana ketika inilah iman bermanfaat berbeda jika sudah tidak gaib lagi bagi mereka, maka tidak ada faedahnya beriman ketika itu, karena beriman pada saat itu dalam keadaan terpaksa.

[15] Yakni tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya dan tidak ada yang dapat meloloskan diri dari-Nya. Di antara kekuatan dan keperkasaan-Nya adalah Dia menurunkan besi, dimana darinya dibuat berbagai peralatan yang kuat. Di antara kekuatan dan keperkasaan-Nya juga adalah Dia Mahakuasa untuk mengalahkan sendiri musuh-musuh-Nya, akan tetapi Dia menguji para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya itu agar diketahui siapa yang menolong agama-Nya meskipun Dia tidak dilihat mereka.

Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggandengkan antara kitab dengan besi, karena dengan keduanya Allah menolong agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Dalam kitab, terdapat hujjah dan bukti, sedangkan besi (seperti pedang) dapat menguatkannya. Dengan keduanya dapat ditegakkan keadilan, yang di sana terdapat dalil yang menunjukkan kebijaksanaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan kesempurnaan-Nya, serta kesempurnaan syariat-Nya yang Dia syariatkan melalui lisan para rasul-Nya.

[16] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kenabian para nabi secara umum, maka Dia menyebutkan di antara mereka nabi pilihan seperti Nuh dan Ibrahim ‘alaihimas salam yang Allah jadikan kenabian dan kitab pada keturunannya.

[17] Oleh karena itu, para nabi yang terdahulu dan yang datang kemudian semuanya berasal dari keturunan Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim ‘alaihimas salam.

[18] Yang diutus kepada mereka para rasul.

[19] Dengan dakwah para rasul, tunduk kepada perintah mereka dan mengambil petunjuk mereka.

[20] Yakni keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengkhususkan Nabi Isa ‘alaihis salam, karena susunan ayat ini berkenaan dengan orang-orang Nasrani yang mengaku mengikuti Nabi Isa ‘alaihis salam.

[22] Yang termasuk di antara kitab-kitab Allah yang utama.

[23] Oleh karena itulah orang-orang Nasrani lebih lunak hatinya daripada yang lain ketika mereka berada di atas syariat Nabi Isa ‘alaihis salam.

[24] Yang dimaksud dengan Rahbaniyah ialah tidak beristri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak mewajibkan hal itu kepada mereka, bahkan merekalah yang mewajibkannya dari diri mereka sendiri dengan maksud mencari keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[25] Yakni mereka tidak melakukannya dan memenuhi hak-haknya, sehingga mereka melakukan dua kesalahan; berbuat bid’ah dan tidak melakukan apa yang mereka wajibkan terhadap diri mereka. Keadaan inilah yang dilakukan mereka pada umumnya.

[26] Kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam setelah beriman kepada Nabi Isa ‘alaihis salam, maka masing-masing mendapatkan pahala sesuai keimanannya.

[27] kepada Nabi Musa dan Isa ‘alaihimas salam. Ayat ini menurut sebagian mufassir tertuju kepada Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan mereka untuk melakukan konsekwensi iman mereka, yaitu bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan bermaksiat kepada-Nya dan beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bahwa jika mereka melakukan yang demikian, maka Allah akan memberikan pahala dua kali, pahala terhadap keimanan mereka kepada para nabi sebelumnya dan pahala terhadap keimanan mereka kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun ayat ini bisa juga umum mencakup Ahli Kitab dan selain mereka, dan inilah yang tampak, yakni Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan mereka beriman dan bertakwa di mana semua bagian agama masuk ke dalamnya, zahir maupun batin, ushul (dasar) maupun furu’ (cabang) dan bahwa jika mereka melaksanakan perintah yang agung ini, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan rahmat-Nya dua bagian yang tidak diketahui sifat dan ukurannya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Kedua bagian itu adalah pahala terhadap keimanan dan pahala terhadap ketakwaan atau pahala karena mengerjakan perintah dan pahala karena menjauhi larangan atau maksud dua kali di sini adalah diulangnya pemberian lagi setelahnya.

[28] Menurut sebagian mufassir, karena kamu beriman kepada dua nabi; Nabi Isa ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[29] Di atas shirath (jembatan). Atau maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberikan kepadamu ilmu, petunjuk dan cahaya yang dengannya kamu dapat berjalan dalam gelapnya kebodohan.

[30] Terhadap keburukanmu.

[31] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan karunia dan ihsan-Nya kepada orang-orang yang beriman dengan iman yang menyeluruh (tanpa memilah-milah), bertakwa kepada Allah dan beriman kepada Rasul-Nya agar Ahli Kitab mengetahui bahwa mereka sedikit pun tidak akan mendapatkan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam), padahal mereka sebelumnya mengatakan bahwa tidak ada yang masuk ke surga kecuali orang-orang Yahudi dan Nasrani, dan mereka memiliki banyak angan-angan, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala di ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertakwa kepada Allah itulah yang mendapatkan dua bagian dari rahmat-Nya, mendapatkan cahaya dan ampunan sebagai celaan terhadap Ahli Kitab yang menyangka sebaliknya. Yang demikian juga agar mereka mengetahui, bahwa karunia itu di Tangan Allah, Dia memberikan kepada siapa yang Dia kehendaki sesuai hikmah-Nya.

[32] Seperti dengan memberikan pahala dua kali bagi Ahli Kitab yang beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[33] Sehingga tidak seorang pun yang dapat mengukur besarnya. Karunia-Nya merata kepada penghuni langit dan bumi, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang lepas dari karunia-Nya meskipun sekejap mata atau kurang dari itu.

Related Posts:

0 Response to "Tafsir Al Hadid Ayat 22-29"

Post a Comment