Cari Blog Ini

Loading...

Surat An-Nashr Ayat 1-3

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sebuah perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidaklah lepas dari ujian ataupun cobaan. Ia akan menimpa siapa saja yang menginginkan sebuah kemuliaan. Semakin besar nilai perjuangan itu, semakin besar pula kadar ujian yang akan diterimanya. Itulah perjuangan. Setiap insan tentu menginginkan keberhasilan dari perjuangan yang dijalaninya. Tanpa putus asa dan terus berusaha dengan diiringi doa kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala semata, keberhasilan dan kemuliaan akan Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikan, insya Allah.

Terlebih manakala yang diperjuangkan adalah agama Allah Subhanallahu wa Ta’ala, sebagaimana yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala tegaskan dalam Al Qur’an (artinya):



“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)


Itulah janji yang akan Allah Subhanallahu wa Ta’ala berikan kepada para hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya.


Pembaca yang dimuliakan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala, diantara kemuliaan yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala anugerahkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat Islam adalah diturunkannya surat An-Nashr (Pertolongan) yang menerangkan tentang pertolongan dan kemenangan yang telah dan akan terus diperoleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para pengikutnya.



Kemuliaan Surat An-Nashr


Surat An-Nashr merupakan salah satu surat yang terakhir diturunkan secara lengkap satu surat, sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya: Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah berkata: Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bertanya kepadaku: Wahai Ibnu ‘Utbah, apakah engkau tahu surat Al-Qur’an yang terakhir turun?” Aku menjawab: “Ya,


“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” Kemudian Ibnu Abbas menjawab: “Benar.” (Shahih Muslim no. 3024). Surat An-Nashr ini termasuk surat Madaniyah (surat yang diturunkan setelah hijrahnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ke Madinah).



Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah, ketika menjelaskan global kandungan surat ini, mengatakan: Di dalam surat yang mulia ini terdapat kabar gembira, perintah bagi Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ketika kabar gembira tersebut menjadi kenyataan, serta adanya isyarat (tanda) dan konsekuensinya.


Kabar gembira tersebut adalah pertolongan Allah untuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, penaklukan kota Makkah, serta masuknya umat manusia ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong, dan menjadi penolong agama Islam yang sebelumnya sebagai musuh-musuh agama ini. Kabar gembira tersebut telah menjadi kenyataan.


Adapun perintah Allah kepada Rasul-Nya setelah terwujudnya kabar gembira dan penaklukan kota Makkah adalah perintah untuk bersyukur kepada-Nya atas kemenangan tersebut, bertasbih dengan memuji-Nya, dan beristighfar.


Sedangkan isyaratnya ada dua macam: yaitu pertolongan yang terus berlangsung untuk Islam dan akan semakin bertambah pertolongan tersebut dengan adanya tasbih, memuji Allah, dan permohonan ampun kepada-Nya dari Rasul-Nya. Ini termasuk perwujudan rasa syukur, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):



“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrohim: 7)


Pertolongan tersebut juga telah terwujud pada zaman Al-Khulafa` Ar-Rasyidin dan yang setelah mereka dari umat ini, dan terus berlangsung hingga agama Islam mencapai apa yang belum pernah dicapai oleh agama-agama lain; serta banyak orang yang menyambut agama Islam yang agama lain tidak dapat menandinginya. Sampai akhirnya muncul penyimpangan dan penyelisihan perintah Allah pada umat ini. Oleh karena itu, Allah Subhanallahu wa Ta’ala timpakan musibah dengan perpecahan dan tercerai-berainya urusan, hingga terjadilah apa yang terjadi.


Walaupun demikian, umat Islam dan agama ini akan senantiasa dirahmati Allah Subhanallahu wa Ta’ala, apa yang tidak terbetik dalam benak ini dan tidak terlintas dalam angan.



Adapun isyarat yang kedua adalah isyarat tentang ajal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang semakin dekat. Bersamaan dengan hal itu, usia Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dipenuhi dengan keutamaan yang dengannya Allah Subhanallahu wa Ta’ala bersumpah.


Dan telah ditetapkan bahwa hal-hal yang memiliki keutamaan seringkali diakhiri dengan istighfar, seperti sholat, haji, dan yang selainnya.” (Tafsir As-Sa’dy, hal. 934)



Pembaca yang kami cintai, pemaparan Asy-Syaikh As-Sa’dy rahimahullah tersebut memberikan gambaran bahwa pertolongan yang hanya datang dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala dijanjikan untuk umat ini tatkala mereka istiqomah di atas agama-Nya, melaksanakan apa yang telah disyariatkan oleh Sang Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam ini, yaitu Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Namun manakala kebanyakan umat Islam telah melalaikan kenikmatan ini, syari’at-Nya dicampakkan, maka pertolongan yang sempat dirasakan umat ini pun sedikit demi sedikit dicabut dan digantikan dengan musibah yang melanda. Itulah manusia, disadari atau tidak adalah makhluk yang lalai, lalai dari mengerjakan amal kebajikan dan ketaqwaan, disisi lain juga lalai dari dosa dan maksiat, sehingga dianggap remeh dan dikerjakan. Wallahul musta’an.


KANDUNGAN SURAT AN-NASHR


Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:



(Artinya): “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”


Ayat pertama:


“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”


Pembaca yang dimuliakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala, ayat yang pertama ini merupakan kabar gembira dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini dengan datangnya pertolongan dan kemenangan atas perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin.



Pertolongan itu datangnya dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala satu-satunya, dan hanya akan diberikan kepada siapa saja yang berpegang teguh kepada perintah Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala menyatakan dalam Al-Qur’an (artinya):


“Dan pertolongan itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali Imron: 126)



Sebaliknya, pertolongan hakiki itu tidak mungkin, bahkan mustahil, akan diberikan kepada orang-orang yang mengaku dan menyeru untuk berjuang serta berkorban demi tegaknya syari’at Allah Subhanallahu wa Ta’ala, namun justru mereka menggunakan cara-cara yang jauh dari syari’at Allah Subhanallahu wa Ta’ala, jauh dari tuntunan yang telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan para shahabatnya.


Para pembaca yang kami muliakan, disebutkan oleh sebagian Mufassirun (ahli tafsir), diantaranya Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, bahwa الفتح (Kemenangan) yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) yang sebelumnya dikuasai oleh kaum musyrikin Quraisy.


Ayat kedua:


“Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”



Inilah salah satu bentuk pertolongan yang diberikan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Ketika manusia berdatangan secara berbondong-bondong dari berbagai negeri, sampai penduduk Yaman sekalipun, datang dan menyatakan keimanan mereka di hadapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Disebutkan oleh Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobary rahimahullah, dari shahabat Abdullah bin Abbas radliyallahu ‘anhuma berkata: “Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berada di Madinah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bertakbir: “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan telah datang penduduk Yaman, kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya: “Wahai Rasulullah, siapa mereka penduduk Yaman?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Mereka adalah kaum yang luhur budi pekertinya, lemah lembut perangai dan akhlaknya. Keimanan di Yaman, Fiqh di Yaman dan Hikmah juga di Yaman.” (Tafsir Ath-Thobary, hal. 603)



Pada saat itu, agama Islam menampakkan kewibawaannya di mata musuh-musuhnya. Bahkan, banyak dari mereka yang pada awal-awal Islam sebagai penghalang dan musuh bagi agama ini, berbalik masuk Islam dan menjadi penolongnya.


Ayat ketiga:


“Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”


Sebagai wujud syukur atas pertolongan dan kemenangan yang telah diberikan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dan umat ini, Allah Subhanallahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk bertasbih, memuji Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan memohon ampun kepada-Nya.



Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyebutkan bahwa ‘Aisyah radliyallahu ‘anha berkata: “Dahulu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di akhir-akhir hidupnya memperbanyak ucapan:


سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ


“Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”


Sebagaimana disebutkan juga oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya hadits no. 484.


Setelah turunnya surat An-Nashr ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga banyak membaca dalam ruku’ dan sujudnya:



سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي


“Maha Suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, Ya Allah, ampunilah aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Pembaca yang kami muliakan, turunnya surat An-Nashr ini merupakan pertanda bahwa ajal (kematian) beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sudah dekat, dan inilah yang disepakati oleh para shahabat radliyallahu ‘anhum. Al-Hafizh Al-Baihaqi rahimahullah menyebutkan riwayat dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Ketika turun surat (An-Nashr), Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memanggil Fathimah (putrinya-red) dan berkata: “Sesungguhnya aku telah mendapat kabar tentang kematianku”, maka ketika itu Fathimah radliyallahu ‘anha tampak menangis dan kemudian tertawa. Kemudian ia (Fathimah-pen) berkata: “Aku diberi tahu tentang berita kematiannya (yaitu kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam -pen), maka akupun menangis. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Bersabarlah! karena kamu adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku, maka akupun (Fathimah-pen) tertawa.” (Dala`il An-Nubuwwah Li Al-Baihaqiy, 7/167).



Dikisahkan juga oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma: “Suatu hari ketika Umar bin Al-Khatthab radliyallahu ‘anhu membawaku masuk bersama para pejuang pertempuran Badr (pada saat itu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma masih muda belia). Tampak keganjilan dalam hati pada sebagian yang hadir, mereka berkata: “Mengapa Umar mengkhususkan anak ini (Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma-red) padahal kita juga memiliki anak sepertinya?” Lalu Umar radliyallahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya siapapun telah mengetahui sebagaimana yang kalian ketahui tentangnya (yaitu Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma-red).” Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepada mereka (para pejuang Badr radliyallahu ‘anhum) tentang tafsir surat An-Nashr, maka sebagian dari mereka menjawab: “Bahwa dalam ayat ini Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah memerintahkan kepada kita agar memuji Allah, dan memohon ampun kepada-Nya jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan bagi kita.” Sebagian yang lain terdiam dan tidak berkomentar sedikitpun. Kemudian Umar radliyallahu ‘anhu bertanya kepadaku: “Apakah tafsir seperti itu yang engkau pahami, wahai Ibnu Abbas?” Aku menjawab: “Tidak, (bukan sekedar itu-red).” Umar radliyallahu ‘anhu berkata: “Lalu bagaimana menurutmu?” Akupun berkata: “Yaitu berita tentang kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam yang telah diberitahukan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepadanya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam,” kemudian Umar berkata: “Tidaklah aku memahaminya melainkan sama seperti yang telah engkau ucapkan.” (Shahih Al-Bukhari no. 4970)


0 comments:

Post a Comment

Referensi Tafsir

As Sa’diy, Abdurrahman bin Nashir (1423 H/2002 M). Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannan. Beirut: Mu’assasah Ar Risalah. As Sa’diy, Abdurrahman bin Nashir. Taisirul Lathiifil Mannaan fii Khulashah Tafsiril Ahkaam. Maktabah Syamilah. Al Mahalli, J. dan As Suyuthi, J. Tafsir Al Jalaalain. www.islamspirit.com. Al Baghawi. Tafsir Al Baghawi. www.islamspirit.com. Al Albani, Muhammad Nashiruddin (1420 H/2000 M). Al Jaami’ush Shaghiir wa ziyaadaatuh. Markaz Nurul Islam li Abhaatsil Qur’an was Sunnah. Al Munajjid, Muhammad bin Shalih. 100 Faidah Min Suurah Yuusuf. Takhrij: Abu Yusuf Hani Faruq. As Suyuthi, Jalaaludin. Asraaru Tartiibil Qur’an. www.almeshkat.net. Al Waadi’iy, Muqbil bin Hadiy (1425 H/2004 M). Ash Shahihul Musnad min Asbaabin Nuzuul (Cet. Ke 2). Shan’a: Maktabah Shan’aa Al Atsariyyah. Depag RI, Al Qur'anul Kariim dan terjemahnya. Bandung: Gema Risalah Pres. Depag RI, Al Qur'anul Kariim dan terjemahnya. Bandung: PT. Syamil Cipta Media. Ibnu ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih (1424 H/2003 M). Tafsir Juz 'Amma. Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah. Ibnu Katsir, Isma’il bin Katsir (1421 H/2000 M). Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziib Tafsiir Ibni Katsir (cet. Ke-2). Riyadh: Daarus Salaam lin nasyr wat tauzi’. Tajudin As, Ahmad dan Al Andalasi, Rukmito Sya’roni (1992 M). Pusaka Islam Kewajiban Yang Diabaikan. Sukabumi: Badan Wakaf Ulil Absor. Anshori Taslim, Lc. Belajar Mudah Ilmu Waris. Jakarta: Hanif Press. Al Mubaarakfuuriy, Shafiyyurrahman (1424 H/2003 M). Ar Rahiiqul Makhtum (cet. Ke-1). Beirut: Daarul Fikri. ________,Tafsir Al Muyassar Tafsir Al Qur'an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an” - Al Ustadz Abu Yahya Marwan bin Musa yang merupakan staf ahli kurikulum dan pengajar Ibnu Hajar Boarding School

Video Gallery

Cara Al-Imam Al-Hafiz Ibnu Katsir Dalam Menafsirkan Al-Quran